Kasih Sayang Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Galah

Kasih Sayang Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Galah
*) Oleh : Jatim, M.A.
Litbang SD Muhammadiyah 29 Surabaya
www.majelistabligh.id -

Tidak ada seorang pun yang paling berjasa di dunia ini selain orang tua, terutama ibu. Ibu telah mengandung selama sembilan bulan, melahirkan, menyusui, merawat, membesarkan, hingga mendidik anaknya sampai dewasa. Kasih sayang ibu kepada anaknya adalah cinta tulus tanpa batas yang berlangsung seumur hidup.

Judul tulisan ini, “Kasih Sayang Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Galah”, merupakan peribahasa yang menggambarkan betapa cintanya ibu tak terbatas, sementara balasan cinta seorang anak sering kali terhalang oleh waktu, kesibukan, maupun keadaan.

Kita tentu teringat bait lagu klasik karya SM. Mochtar:

“Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.”

Menyimak syair tersebut, ibu adalah sosok yang rela berkorban apa saja demi buah hatinya. Perjuangan dan pengorbanannya merupakan bentuk cinta tanpa syarat yang dimulai sejak anak dalam kandungan hingga akhir hayat.

Tahapan Perjuangan Ibu

  • Masa Kehamilan: Membawa beban berat selama sembilan bulan dan menahan rasa sakit seorang diri.
  • Proses Melahirkan: Bertaruh nyawa antara hidup dan mati demi menghadirkan sang buah hati ke dunia.
  • Masa Pertumbuhan: Merawat, memberi makan, dan mendidik anak tanpa kenal lelah, bahkan sering kali mengorbankan waktu tidur serta keinginan pribadinya.

Bentuk Pengorbanan Nyata

  • Ketulusan Fisik dan Mental: Terbangun di tengah malam saat anak sakit dan tetap tersenyum meski sedang menghadapi kesulitan hidup.
  • Doa yang Tak Terputus: Di setiap sujudnya, ibu selalu menyelipkan doa agar anaknya senantiasa sukses dan bahagia.

Kebahagiaan anak adalah segalanya bagi ibu. Ia berjuang memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Namun, terkadang anak tidak sadar telah menyakiti hati dan perasaannya. Realitas di lapangan menunjukkan sebagian anak tega melempar nasi panas kepada orang tuanya, mengusir, mencaci maki, menelantarkan mereka hingga hidup sebatang kara tanpa makan, atau memasukkannya ke panti jompo. Padahal, anak-anaknya telah sukses. Dalam ajaran agama, perilaku tersebut tergolong sebagai perbuatan durhaka.

Ciri-Ciri Anak Durhaka

Sikap, ucapan, dan perbuatan yang menyakiti hati atau tidak menghormati orang tua merupakan bentuk kedurhakaan. Ciri-cirinya antara lain:

1. Perilaku dan Ucapan Sehari-hari

  • Berbicara dengan nada tinggi, membentak, atau mengucapkan kata penolakan yang kasar seperti “ah”.
  • Mencela, menghina, atau berkata kasar kepada orang tua.
  • Bersikap keras, cemberut (bermuka masam), atau memandang sinis saat dipanggil maupun diajak bicara.
  • Sering membantah perintah dan nasihat kebaikan dari orang tua.

2. Sikap Emosional dan Sosial

  • Membuat orang tua sedih hingga menangis karena perbuatan atau perkataan.
  • Malu mengakui atau menyembunyikan keberadaan orang tua di depan umum maupun teman-teman.
  • Menceritakan keburukan orang tua kepada orang lain atau membongkar aib keluarga.
  • Membuat orang tua merasa takut atau segan untuk menegur, menyampaikan keinginan, maupun memberi nasihat.

3. Pengabaian Tanggung Jawab dan Hak

  • Tidak peduli saat orang tua sedang sakit, lelah, atau membutuhkan bantuan.
  • Enggan membantu pekerjaan rumah atau menolak saat diminta tolong.
  • Tidak pernah mengucapkan terima kasih atas pengorbanan dan pemberian orang tua.
  • Lebih mementingkan urusan pribadi, teman, atau pasangan dibandingkan keridaan orang tua.
  • Membebani orang tua dengan tuntutan materi di luar kemampuan mereka.

Ancam Azab Bagi Anak Durhaka

  1. Salatnya tidak diterima oleh Allah Swt.
  2. Amal ibadahnya terhapus.
  3. Dimurkai oleh Allah Swt.
  4. Dosanya tidak diampuni.
  5. Diharamkan mencium bau surga.
  6. Tidak diakui sebagai umat Rasulullah saw.
  7. Termasuk ke dalam golongan orang yang merugi.

Meskipun hati seorang ibu hancur dan menangis, ia jarang menunjukkannya di depan sang anak. Sosoknya akan selalu hidup di dalam hati dan takkan pernah terganti. Senyumnya bagaikan pelangi setelah hujan, dan pancaran matanya menjadi penuntun langkah kita. Ibu adalah cahaya pelita yang senantiasa menerangi perjalanan hidup kita.

Pesan Moral untuk Seorang Anak

  1. Tidak memandang orang tua dengan tatapan sinis atau tidak menyenangkan.
  2. Tidak meninggikan suara saat berbicara dengan orang tua.
  3. Tidak memotong pembicaraan atau mendahului mereka dalam berkata-kata.
  4. Tidak berdiri di depan orang tua yang sedang duduk tanpa rasa hormat.
  5. Lebih mengutamakan kebutuhan orang tua daripada kepentingan duniawi diri sendiri.

Semoga kita mampu menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, khususnya ibu, serta dijauhkan dari sifat durhaka sehingga hidup kita senantiasa dilimpahi keberkahan. Aamiin.

Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga bermanfaat.

 

Tinggalkan Balasan

Search