Memulai sebuah kebaikan dan meyakini kebenaran sering kali terasa mudah, namun tantangan sesungguhnya terletak pada keberlanjutan ketaatan tersebut. Prinsip inilah yang menekankan betapa krusialnya makna istikamah sebagai tuntutan utama dari keimanan seorang Muslim.
Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Homaidi Hamid, di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Merujuk pada hadis riwayat Sufyan bin Abdullah al-Tsaqafi, Homaidi mengutip ajaran Rasulullah saw: “Qul amantu billah tsumma istaqim” (Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian istikamahlah).
Menurutnya, petunjuk Nabi saw ini menegaskan bahwa iman tidak sekadar berhenti pada lisan atau pengakuan semata.
“Syahadat adalah pintu masuk seorang mukmin, tetapi tuntutan selanjutnya adalah merawat keimanan itu melalui ketaatan yang konsisten di shirath al-mustaqim (jalan yang lurus),” ujar Homaidi.
Para ulama sendiri mendefinisikan istikamah sebagai luzumu tha’atillah, yaitu senantiasa berada dalam bingkai ketaatan kepada Allah Swt. Ia juga mengaitkan konsep ini dengan Surah Fussilat ayat 30, di mana Allah menjanjikan ketenangan jiwa serta kabar gembira berupa surga melalui para malaikat bagi mereka yang teguh beristikamah.
Guna menerapkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, Homaidi mengimbau para jamaah agar tidak membebani diri secara berlebihan saat menjalankan amalan sunah. Beban yang terlalu berat di awal dikhawatirkan hanya bertahan sesaat sebelum akhirnya ditinggalkan.
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit (Ahabbul a’mali ilallahi adwamuha wa in qalla),” jelasnya mengutip sabda Rasulullah saw.
Ia memberikan gambaran praktis: membaca Al-Qur’an satu halaman setiap hari jauh lebih bernilai ketimbang membaca banyak juz dalam sehari namun tidak pernah mengulanginya lagi. Hal serupa berlaku untuk ibadah malam, yang bisa dimulai dari salat witir satu hingga tiga rakaat secara rutin.
Selain itu, Homaidi meminta umat agar tidak memandang sebelah mata amalan yang terkesan sepele. Berdasarkan hadis “Ittaqū an-nāra walau bi syiqqi tamrah”, keselamatan dari api neraka bahkan bisa diraih melalui sedekah separuh buah kurma selama dilakukan dengan ikhlas.
Ia mengajak jamaah untuk membangun kebiasaan baik secara bertahap—dimulai dari satu amalan rutin sebelum menambah amalan lainnya. “Mudah-mudahan kebiasaan ini membentuk karakter kita untuk senantiasa mencintai kebenaran dan amal saleh, sekaligus menjauhi segala bentuk kemaksiatan,” pungkasnya. (*/tim)
