Tempuh Perjalanan Laut 6 Jam, ‘Aisyiyah Sikka Salurkan Bantuan hingga Pulau Palue

Tempuh Perjalanan Laut 6 Jam, ‘Aisyiyah Sikka Salurkan Bantuan hingga Pulau Palue
www.majelistabligh.id -

Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Sikka turut bergerak membantu warga terdampak gempa bumi berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang Pulau Flores Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari sejumlah wilayah terdampak di Kabupaten Sikka, Pulau Palue menjadi salah satu daerah yang mengalami dampak paling parah sekaligus memiliki tantangan tersendiri dalam penyaluran bantuan.

Ketua PDA Sikka, Fitriah, pada Rabu (2/9/26) mengatakan, Pulau Palue secara administratif merupakan bagian dari Kabupaten Sikka. Namun, secara geografis, pulau tersebut berada cukup jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Sikka dan justru lebih dekat dengan wilayah Nagekeo yang menjadi salah satu wilayah pusat gempa Flores.

“Untuk daerah Sikka sendiri yang paling terdampak ada di Pulau Palue,” ujar Fitriah.

Tempuh Perjalanan Laut 6 Jam, ‘Aisyiyah Sikka Salurkan Bantuan hingga Pulau Palue
Hampir 90 persen rumah warga di Pulau Palue mengalami rusak akibat gempa, sehingga sangat butuh bantuan. (dok)

Untuk memastikan bantuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan warga, PDA Sikka terlebih dahulu menurunkan dua orang tim ke Pulau Palue. Tim tersebut bertugas melihat langsung kondisi di lapangan, melakukan pendataan, sekaligus mengidentifikasi kebutuhan masyarakat terdampak.

Hasil pendataan menunjukkan bahwa warga membutuhkan berbagai kebutuhan dasar, mulai dari tenda, tikar, selimut, hingga kebutuhan khusus untuk balita. Selain itu, perlengkapan mandi, minyak kayu putih, minyak telon, pembalut, sembako, dan air minum juga menjadi kebutuhan mendesak.

“Ada beberapa rekan kami yang memang ditempatkan di sana, di Palue, untuk melihat apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat. Laporan yang masuk saat itu adalah tenda, tikar, selimut, susu balita, perlengkapan mandi, minyak kayu putih, minyak telon, pembalut, selain sembako dan air minum,” jelas Fitriah.

Dalam penyaluran bantuan, PDA Sikka menggandeng MDMC Universitas Muhammadiyah Maumere. Kolaborasi tersebut dilakukan mengingat medan menuju lokasi terdampak cukup berat dan membutuhkan persiapan khusus.

Menempuh Laut dan Jalan Terjal
Perjalanan menuju Pulau Palue dari Maumere bukanlah perjalanan singkat. Tim harus berangkat melalui Pelabuhan Feri Kewapante, Maumere, kemudian menempuh perjalanan laut menggunakan kapal feri selama sekitar lima hingga enam jam.

Setibanya di Pelabuhan Pulau Palue, perjalanan belum selesai. Pulau Palue sendiri merupakan kawasan vulkanik Gunung Rokatenda, gunung api yang masih aktif. Kondisi geografis tersebut turut menjadi tantangan tersendiri dalam proses penyaluran bantuan kepada warga terdampak.

Kondisi pascagempa juga membuat sejumlah akses di Pulau Palue terhambat. Bebatuan besar yang berjatuhan menutup beberapa ruas jalan sehingga mobilitas warga maupun tim bantuan menjadi semakin sulit. Oleh karena itu tim harus kembali menggunakan perahu untuk mengitari pulau menuju titik yang paling dekat dengan desa sasaran selama kurang lebih 30 menit.

Dari titik tersebut, bantuan kemudian dibawa dengan berjalan kaki menuju desa. Medan yang menanjak membuat kendaraan tidak dapat menjangkau lokasi, sehingga bantuan harus diangkut dengan pikul oleh tim.

“Setelah turun perahu, kami harus berjalan dengan medan yang agak menanjak menuju desa sekitar 30–45 menit. Kendaraan tidak bisa naik, jadi bantuan dibawa dengan dipikul,” ungkap Fitriah.

PDA Sikka menyalurkan bantuan ke empat desa, yakni Desa Kesokoja di Dusun Awa Male, Desa Natakuni di Dusun Cua, Desa Nitunlea di Dusun Nitung, serta Desa Tuanggeo di Dusun Okacere.

Karena jarak dan medan yang harus ditempuh, tim yang membawa bantuan harus menginap setidaknya selama dua hari sebelum dapat kembali. Kesempatan tersebut sekaligus dimanfaatkan untuk memberikan pendampingan psikososial kepada warga, terutama anak-anak yang mengalami dampak psikologis akibat gempa.

Dalam satu kali penyaluran, sebanyak delapan orang tim berangkat menuju Pulau Palue. Bersama MDMC Universitas Muhammadiyah Maumere, ‘Aisyiyah juga mendirikan posko bantuan di rumah salah satu warga yang sekaligus menjadi bagian dari tim relawan dan dosen Universitas Muhammadiyah Maumere.

Membantu Tanpa Memandang Latar Belakang
Fitriah mengaku bersyukur bantuan ‘Aisyiyah bersama Muhammadiyah dapat menjangkau masyarakat Pulau Palue. Menurutnya, kebutuhan warga sangat besar karena hampir 90 persen rumah warga mengalami kerusakan berat hingga runtuh.

Menariknya, seluruh warga Pulau Palue yang menjadi penerima bantuan tersebut bukan beragama Islam. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi penghalang bagi ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah untuk hadir memberikan bantuan.

“Di Pulau Palue itu Muslim tidak ada. Semuanya Nasrani. Mereka sangat berterima kasih kepada ‘Aisyiyah dan Universitas Muhammadiyah karena mereka langsung menerima apa yang mereka butuhkan,” tuturnya.

Menurut Fitriah, kehadiran tim di lapangan menjadi penting karena salah satu anggota tim merupakan dosen Universitas Muhammadiyah Maumere yang berasal dari wilayah tersebut. Pengetahuan tentang kondisi setempat membantu tim memahami kebutuhan masyarakat secara lebih tepat.

Bagi Fitriah, pengalaman tersebut semakin meneguhkan pentingnya penyaluran bantuan yang berbasis kebutuhan. Bantuan tidak sekadar diberikan, tetapi terlebih dahulu dipastikan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan warga di lokasi bencana.

Ia berharap ‘Aisyiyah dapat terus hadir dan memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak gempa, khususnya mereka yang membutuhkan dukungan untuk kembali bangkit. “Saya ingin ‘Aisyiyah untuk terus dapat memberikan bantuannya, melihat kebutuhan warga kemudian membantu sesuai yang mereka butuhkan,” ujarnya.

Selain bantuan kebutuhan dasar, Fitriah berharap pemerintah dan berbagai pihak dapat segera memberikan dukungan hunian bagi warga yang rumahnya rata dengan tanah. Hal tersebut dinilai mendesak mengingat musim penghujan akan segera tiba. “Untuk yang terdampak, harapannya selalu diberi kekuatan dan bencana ini segera selesai. Selain itu, agar segera dapat diberikan bantuan hunian bagi warga, terutama yang rumahnya rata dengan tanah, mengingat sebentar lagi memasuki musim penghujan,” pungkas Fitriah. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search