Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melalui Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) menerima kunjungan delegasi United Foundation for Global Development (UFGD) serta Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A. K. Alsattari, di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Pertemuan ini menjadi langkah awal penjajakan kerja sama sosial dan kemanusiaan antarlembaga. Salah satu agenda utama yang dibahas adalah rencana pembangunan masjid di Indonesia dengan desain yang terinspirasi dari Masjidil Aqsa.
Ketua LHKI PP Muhammadiyah, Imam Addaruqutni, menyambut positif gagasan tersebut. Ia menilai inisiatif ini menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan emosional dan spiritual antara masyarakat Indonesia dan Palestina.
“Kami mewakili Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyambut hangat kedatangan Anda dan sangat antusias terhadap proyek pembangunan masjid yang menyerupai Masjidil Aqsa ini,” ujar Imam.
Delegasi UFGD yang hadir terdiri dari dua warga Palestina berdomisili di Amerika Serikat, Abdullah Raed Shihda dan Barhum Daoud Mahmud. Kunjungan mereka ke Indonesia dilakukan atas undangan khusus dari Dubes Alsattari untuk mengenalkan proyek Al-Aqsa Mosque in Indonesia.
Alsattari menjelaskan bahwa agenda ini bertujuan membuka ruang kolaborasi antara lembaga kemanusiaan internasional dengan Muhammadiyah. Melalui proyek ini, masyarakat Palestina ingin memberikan kontribusi balik atas dukungan besar yang selama ini ditunjukkan oleh bangsa Indonesia.
“Saya sengaja mengundang UFGD ke Indonesia agar masyarakat di sini juga dapat merasakan kontribusi dan kedermawanan timbal balik dari warga Palestina,” tutur Alsattari.
Perwakilan UFGD, Abdullah Raed Shihda, mengungkapkan bahwa Indonesia dipilih karena memiliki ikatan historis dan kepedulian yang tinggi terhadap Palestina. Hal itu terbukti dari berbagai aksi kemanusiaan warga Indonesia, termasuk pembangunan rumah sakit dan sekolah di tanah Palestina.
“Kami tahu Indonesia banyak membantu warga kami. Kami ingin membalas kebaikan tersebut dengan menghadirkan masjid yang mirip Masjidil Aqsa di Indonesia, agar masyarakat yang belum berkesempatan ke sana tetap bisa merasakan atmosfer salat di Al-Aqsa,” jelas Raed.
Sementara itu, Barhum Daoud Mahmud menegaskan bahwa kehadiran mereka bukan untuk meminta bantuan materiil, melainkan memperluas jejaring dan mengenalkan misi kemanusiaan organisasi.
“Kedatangan kami untuk menjalin koneksi dan mensyiarkan program kerja. Meski diinisiasi oleh warga Palestina, fokus kami adalah membantu masyarakat miskin di berbagai belahan dunia, khususnya di Afrika. Kami meyakini pertemuan dengan Muhammadiyah ini dapat memperkuat misi sosial tersebut,” pungkas Barhum. (*/tim)
