Ujung kehidupan adalah kematian, sebuah kepastian yang menjadi akhir perjalanan fisik manusia, baik tua maupun muda. Ini adalah tahap di mana tubuh fana terhenti, seringkali digambarkan sebagai gerbang menuju kehidupan selanjutnya. Fokus utamanya adalah persiapan spiritual dan amal yang akan dibawa.
Manusia itu senantiasa tertidur. Ia baru terbangun ketika telah terbungkus kain kafan dan telah dimasukkan ke liang kubur.
Orang yang tidur tidak akan tahu kalau dirinya sedang bermimpi kecuali setelah bangun, begitu juga orang yang lalai akan akhirat tidak akan tahu kalau dirinya sedang menyia-nyiakan amal akhirat kecuali setelah datangnya kematian.
Kekayaan kita rengkuh dengan segala peluh. Jabatan kita raih dengan segala daya dan upaya. Bahkan harta dan kekuasaan itu kita dapatkan dengan menghalalkan segala cara.
Bagi dunia, mungkin kita adalah miliarder, mungkin kita penguasa yang digdaya, mungkin kita pengusaha yang kaya raya, mungkin juga selebriti atau tokoh penting lainnya. Namun, bagi Malaikat Maut, kita tidak lain hanyalah nama yang telah terdaftar.
Kematian adalah hal yang paling jauh dari pikiran kita, walaupun sebenarnya ia lebih dekat dari segala yang dekat dengan kita. Banyak yang percaya akan datangnya kematian, namun hanya sedikit yang bersiap.
Umur kita yang tersisa di hari ini sungguh tak ternilai harganya bila tanpa ketaatan. Sebab esok hari belum tentu jadi bagian dari diri kita. Jangan tertipu dengan usia muda, karena syarat untuk mati tidaklah harus tua. Jangan terperdaya dengan badan sehat, karena syarat untuk mati tidak pula harus sakit.
Teruslah berbuat baik dan berkata yang baik. Walau tak banyak orang yang mengenalimu, tapi kebaikan yang kita lakukan akan menuntun kita pada kebahagiaan, dan akan dikenang oleh mereka yang kita tinggalkan.
Kekuasaan Allah Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu. Dia telah menetapkan kematian atas diri manusia. Sehingga sekuat dan searogan apapun manusia berupaya menghindar darinya, kematian itu tetap akan mengejarnya. Allah Azza wa Jalla berfirman,
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’:78)
Sudah sepatutnyalah kita selalu ingat bahwa hidup di dunia tidaklah kekal. Agar kita bersiap dengan perbekalan yang dibutuhkannya saat perjalanannya yang panjang nanti.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR Ibnu Majah, no. 4.258; Tirmidzi; Nasai; Ahmad)
Syumaith bin ‘Ajlan berkata,
مَنْ جَعَلَ الْمَوْتَ نُصْبَ عَيْنَيْهِ, لَمْ يُبَالِ بِضَيْقِ الدُّنْيَا وَلاَ بِسَعَتِهَا
“Barangsiapa menjadikan maut di hadapan kedua matanya, dia tidak peduli dengan kesempitan dunia atau keluasannya.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm. 483, tahqiq Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi). (*)
