Umur Kita Terbatas

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Al-Imam Al-Muwaffaq Muhammad as-Safarini rahimahullah memberikan nasihat yang sangat mendalam mengenai berharganya waktu dan terbatasnya umur manusia.

As-Safarini menekankan pentingnya menjaga waktu karena umur manusia terbatas, bernafas, dan akan terus berkurang. Beliau menegaskan bahwa waktu yang singkat adalah permata berharga yang tidak tergantikan, yang menentukan nasib kekal di akhirat. Oleh karena itu, kita diimbau untuk memaksimalkan setiap detik hidup yang berharga ini.

فاغتنم رحمك الله حياتك النَّفيسة، واحتفظ بأوقاتك العزيزة، واعلم أن مدَّة حياتِك محدودةٌ، وأنفاسك معدودةٌ، فكلُّ نفسٍ ينقص به جزء منك

“Manfaatkanlah -semoga Allah merahmatimu- hidupmu yang berharga dan jagalah sebaik-baiknya waktumu yang mahal. Ketahuilah bahwa masa hidupmu terbatas, sedangkan napas-napasmu bisa dihitung. Oleh karena itu, setiap napasmu akan mengurangi bagian dirimu.

والعمر كله قصير، والباقي منه هو اليسير، وكل جزءٍ منه جوهرةٌ نفيسةٌ لا عدل لها، ولا خُلف منها، فإنَّ بهذه الحياة اليسيرة خلودُ الأبد في النَّعيم، أو العذاب الأليم

“UMUR itu semuanya PENDEK, sedangkan yang tersisa darinya hanya sedikit. Setiap bagian darinya merupakan PERMATA yang sangat berharga. Ia tidak ada bandingannya dan tidak tergantikan. Sebab, dengan hidup yang pendek ini, bisa jadi akan diraih kekekalan abadi dalam kenikmatan atau adzab yang pedih.

وإذا عادلتَ هذه الحياة بخلود الأبد علمتَ أنَّ كلَّ نَفَسٍ يعدلُ أكثر من ألف ألف ألف عام في نعيم لا خطر له، أو خلاف ذلك، وما كان هكذا فلا قيمة له

“Jika engkau membandingkan kehidupan ini dengan kekekalan abadi, engkau akan mengetahui bahwa setiap napas lebih berharga dibandingkan dengan se-miliar tahun dalam kenikmatan yang tidak pernah terbayangkan, atau bisa jadi sebaliknya (dalam adzab). Tentu, apabila keadaannya demikian, umur tidak ternilai harganya.

فلا تُضَيِّع جواهرَ عُمركَ النَّفيسة بغير عملٍ، ولا تذهبهَا بغير عوضٍ، واجتهد أن لا يخلو نَفسٌ من أنفاسك إلاَّ في عَمَلِ طاعةٍ أو قربةٍ تتقرب بها

“Itu sebabnya, jangan engkau sia-siakan permata umurmu yang sangat berharga tanpa amal. Jangan habiskan umurmu tanpa mendapatkan ganti. Bersungguh-sungguhlah supaya jangan sampai satu napasmu kosong, kecuali dalam amalan taat dan mendekatkan diri kepada Allah.

فإنَّك لو كانت معك جوهرةٌ من جواهر الدُّنيا لَسَاءَكَ ذهابها فكيف تُفَرِّطُ في ساعاتك وأوقاتك، وكيف لا تحزن على عُمرك الذَّاهب بغير عوض

“Sungguh, seandainya engkau memiliki salah satu permata dunia, pasti kehilangannya akan membuatmu sangat bersedih.”

Jika demikian,

  • Bagaimana bisa engkau menyia-nyiakan kesempatan-kesempatan dan waktu-waktumu?
  • Bagaimana bisa engkau tidak bersedih terhadap umurmu yang berlalu tanpa mendapatkan ganti?”

(Al-Imam Muhammad as-Safarainy rohimahullah menjelaskan, Ghodza` al-Albab Syarh Manzhumah al-Adab, jilid 2, 448-449)

Berikut adalah poin-poin renungan mengapa hal tersebut seharusnya membuat kita sedih dan sadar, terutama berdasarkan perspektif Islam:

  1. Waktu adalah Modal yang Tidak Kembali

Umur kita bukanlah sesuatu yang abadi, melainkan kumpulan hari-hari. Ketika satu hari berlalu, maka sebagian dari diri kita pun ikut pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Kita seperti berada di atas kendaraan (siang dan malam) yang terus membawa kita menuju akhirat, namun seringkali kita tidak sadar.

  1. Penyesalan Terbesar adalah Waktu yang Terbuang

Menyia-nyiakan waktu lebih parah daripada kematian. Kematian hanya memutuskan kita dari dunia, tetapi menyia-nyiakan waktu memutuskan kita dari Allah dan akhirat. Bayangkan jika umur dihabiskan untuk hal sia-sia, lalu kita harus menghadap Allah tanpa bekal amal saleh.

  1. “Ganti” Itu Adalah Amal Saleh

Satu-satunya “ganti” yang berharga bagi waktu yang berlalu adalah amal saleh, ilmu yang bermanfaat, atau zikir. Jika hari ini berlalu tanpa ketaatan, maka kita kehilangan satu kesempatan emas yang tidak mungkin diulang kembali.

  1. Teguran untuk Masa Muda dan Kesehatan

Masa muda dan kesehatan adalah dua nikmat yang sering membuat manusia lalai. Kita menunda-nunda amal saleh dengan alasan “masih muda” atau “nanti kalau sudah tua/sempat”. Padahal, kematian bisa datang kapan saja, tanpa menunggu kita siap.

  1. Solusi: Perbaiki Sisa Umur

Jika sadar kita telah membuang waktu, jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Gunakan waktu yang tersisa dengan:

  • Bertobat dengan bersungguh-sungguh (nasuha).
  • Memperbaiki sisa umur dengan amal saleh.
  • Sibukkan diri dengan kebenaran, karena jika tidak, diri akan tersibukkan dengan kebatilan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search