Usai Revitalisasi, SMP Maritim Mola Wakatobi Kini Aman dan Nyaman

SMP Swasta Maritim Mola kini bertransformasi menjadi ruang tumbuh yang aman bagi anak-anak laut. (ist)
www.majelistabligh.id -

Berdiri kokoh di atas kawasan pesisir permukiman Suku Bajo, SMP Swasta Maritim Mola kini bertransformasi menjadi ruang tumbuh yang aman bagi anak-anak laut. Sebelum tersentuh program revitalisasi, kondisi sekolah ini jauh dari kata layak. Atap yang bocor, lantai rapuh, hingga struktur kayu yang lapuk sempat membuat kegiatan belajar mengajar diselimuti rasa waswas.

“Kondisi sekolah kami sebelumnya sudah tidak layak. Lantai rapuh dan atap rusak membuat siswa maupun guru tidak nyaman. Kami sangat khawatir kerusakan tersebut bisa membahayakan keselamatan anak-anak saat pembelajaran berlangsung,” ungkap Kepala SMP Swasta Maritim Mola, Narto.

Sebagai sekolah yang berada di atas perairan, konstruksi bangunan SMP Maritim Mola memiliki tantangan geografis tersendiri. Kendati demikian, sekolah ini tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir setempat.

“Secara geografis, sekolah kami berada di tengah komunitas Suku Bajo. Sepulang sekolah, banyak murid yang ikut orang tua mereka melaut. Karena itu, sekolah harus mampu menghadirkan pembelajaran yang adaptif tanpa menghilangkan identitas dan tradisi kemaritiman mereka,” jelas Narto.

Fasilitas Baru untuk Pembelajaran Bermutu

Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, SMP Swasta Maritim Mola memperoleh kucuran anggaran sekitar Rp2,96 miliar. Perubahan signifikan terlihat dari berdirinya empat Ruang Kelas Baru (RKB) yang kokoh, lengkap dengan fasilitas penunjang seperti ruang perpustakaan, UKS, ruang administrasi, toilet, serta rehabilitasi laboratorium IPA.

Direktur Jenderal PAUD, Dikdas, dan PNFI Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa revitalisasi ini merupakan ikhtiar negara dalam menghadirkan sekolah yang aman dan nyaman, termasuk di wilayah pesisir dan kepulauan.

“Bagi anak-anak Suku Bajo di Wakatobi, sekolah yang layak bukan sekadar bangunan baru, melainkan ruang aman untuk menumbuhkan harapan, menjaga identitas kemaritiman, dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik,” ujar Gogot.

Semangat Baru Guru dan Siswa

Dampak positif perubahan ini turut dirasakan oleh Hangki, guru Pendidikan Agama Islam di sekolah tersebut. Ia mengenang masa-masa sulit ketika pihak sekolah harus menyiasati keterbatasan ruang akibat kerusakan bangunan.

“Dulu beberapa ruang kelas rusak parah, sehingga kami terpaksa menyekat satu ruangan menjadi dua kelas. Atap bocor, lantai berlubang, dinding retak, serta minimnya sirkulasi udara dan pencahayaan membuat suasana belajar sangat tidak kondusif,” kenang Hangki.

Kini, hadirnya gedung yang representatif memberikan energi baru bagi para guru untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Hangki pun berharap program serupa dapat menyasar sekolah-sekolah lain di Kabupaten Wakatobi demi pemerataan kualitas pendidikan di wilayah kepulauan.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tahun 2025, total sekolah yang direvitalisasi di Provinsi Sulawesi Tenggara mencapai 348 sekolah, yang terdiri dari 29 PAUD, 136 SD, 94 SMP, dan 89 SMA. Khusus untuk Kabupaten Wakatobi, program intervensi ini berhasil menyasar 7 SD, 3 SMP, dan 3 SMA. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search