Wamendikdasmen Fajar Tegaskan Posisi Strategis PNFI dalam Ekosistem Pendidikan Nasional

Wamendikdasmen Fajar Tegaskan Posisi Strategis PNFI dalam Ekosistem Pendidikan Nasional
www.majelistabligh.id -

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa penguatan Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) merupakan bagian dari pelaksanaan Asta Cita keempat Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia. Komitmen tersebut diterjemahkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di bawah kepemimpinan Menteri Abdul Mu’ti melalui visi Pendidikan Bermutu untuk Semua.

Hal tersebut disampaikan Fajar saat menutup Rapat Koordinasi Penguatan Tata Kelola PNFI Tahun 2026 di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Mesin dan Teknik Industri (BBPPMPV BMTI), Cimahi Jawa Barat.

Fajar menjelaskan bahwa pembahasan revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional diarahkan untuk memperkuat pendidikan formal, nonformal, dan informal sebagai satu kesatuan dalam ekosistem pendidikan nasional dan pembelajaran sepanjang hayat.

“Selama ini pendidikan nonformal sering dipandang hanya sebagai pengganti, penambah, atau pelengkap pendidikan formal. Cara pandang tersebut berdampak terhadap kebijakan, anggaran, animo masyarakat, dan kualitas layanan. Paradigma ke depan bergeser. PNFI diperkuat sebagai bagian utuh dari ekosistem pendidikan nasional dan pembelajaran sepanjang hayat,” ungkap Fajar.

Lebih jauh, Fajar menambahkan bahwa pembahasan revisi tersebut juga menguatkan pembelajaran sepanjang hayat dan penyelenggaraan pendidikan dengan sistem terbuka. Keduanya berkorelasi kuat dengan karakter PNFI yang fleksibel, adaptif, serta dekat dengan kebutuhan keluarga dan masyarakat.

“Kita menggeser paradigma dari sekadar schooling menuju learning. Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga di keluarga, komunitas, tempat kerja, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, Sanggar Kegiatan Belajar, Lembaga Kursus dan Pelatihan, serta berbagai ruang kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Fajar menambahkan, penguatan posisi PNFI terus didorong melalui pembahasan revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional bersama berbagai pemangku kepentingan dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Arah tersebut memberikan optimisme bagi para penggerak pendidikan nonformal.

Di sisi lain, Wamen Fajar juga menyampaikan bahwa penguatan PNFI juga berkaitan dengan pergeseran orientasi pendidikan dari sekadar kepemilikan ijazah menuju penguasaan kompetensi dan pembentukan karakter. Salah satu gagasan yang dikembangkan adalah pengakuan terhadap kredensial mikro atau microcredentials.

“Pada era kompetensi dan kecerdasan artifisial, yang penting tidak hanya ijazah, tetapi juga kemampuan yang benar-benar dikuasai dan karakter yang tumbuh melalui proses belajar. Pengakuan terhadap kompetensi akan membuka ruang yang lebih besar bagi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dan Lembaga Kursus dan Pelatihan,” jelasnya.

Fajar menyebut Jawa Barat memiliki salah satu ekosistem pendidikan nonformal terbesar di Indonesia. Besarnya jumlah satuan dan warga belajar harus diimbangi dengan peningkatan mutu pembelajaran, kualitas pelayanan, kapasitas kelembagaan, serta tata kelola yang akuntabel.

“Tata kelola menjadi kata kunci. Data peserta didik harus benar-benar menggambarkan kondisi nyata. Ketika posisi PNFI semakin kuat, kelembagaan, data, pendidik, dan kualitas pembelajarannya juga harus siap,” tegasnya.

Menurut Fajar, PNFI ke depan tidak cukup hanya memperluas akses dan mengurangi jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS). PNFI harus memastikan setiap warga belajar memperoleh kompetensi, karakter, dan bekal untuk melanjutkan pendidikan, bekerja, berwirausaha, serta memperbaiki kehidupannya.

Direktur PNFI Kemendikdasmen, I Gusti Made Ardana, dalam laporannya turut mengapresiasi keterlibatan kelompok masyarakat yang secara sukarela membantu pendataan ATS. Inisiatif tersebut, menurutnya, menjadi contoh kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menemukan serta mendampingi anak yang belum memperoleh layanan pendidikan.

Sebagai penutup, Fajar menyampaikan apresiasi kepada Direktur PNFI beserta jajaran, para kepala UPT Kemendikdasmen di Jawa Barat, dinas pendidikan kabupaten/kota, pengelola Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dan Sanggar Kegiatan Belajar, serta seluruh organisasi mitra yang terus bersinergi memperkuat mutu pendidikan formal maupun nonformal di Jawa Barat.

“Mulai dari Jawa Barat, mari kita kurangi Anak Tidak Sekolah, tingkatkan mutu PNFI, dan bangun budaya belajar sepanjang hayat. Tujuan besarnya adalah melahirkan masyarakat pembelajar dan masyarakat berpengetahuan,” pungkas Fajar. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search