Dalam perspektif Islam, menjaga kesehatan merupakan bagian dari amanah. Rasulullah ﷺ bersabda, *”Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”* (HR. Bukhari). Hadis ini mengingatkan bahwa kesehatan bukan sekadar fasilitas hidup, tetapi modal utama untuk beribadah, bekerja, belajar, dan mengabdi kepada masyarakat. Ketika paru-paru rusak, bukan hanya tubuh yang melemah, tetapi juga produktivitas dan kualitas hidup.
Al-Qur’an juga mengajarkan agar manusia tidak menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan. Allah Swt. berfirman:
*وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ*
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga tubuh dari kebiasaan yang merusak merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual.
Karena itu, Hari Kanker Paru Sedunia seharusnya tidak berhenti pada unggahan media sosial atau slogan kampanye. Momentum ini perlu diterjemahkan menjadi gerakan nyata: memperkuat kawasan tanpa rokok, meningkatkan kualitas udara, memperluas edukasi kesehatan, mempermudah akses skrining bagi kelompok berisiko, serta memperkuat layanan pengobatan agar pasien memperoleh penanganan sedini mungkin. Pencegahan yang konsisten akan menyelamatkan jauh lebih banyak nyawa dibandingkan penanganan yang terlambat.
Pada akhirnya, paru-paru adalah pintu pertama kehidupan. Setiap tarikan napas adalah karunia yang sering baru disadari nilainya ketika mulai hilang. Hari Kanker Paru Sedunia mengingatkan bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan rumah sakit, tetapi juga oleh pilihan hidup yang kita ambil hari ini. Jika manusia mau menjaga paru-parunya, mengurangi faktor risiko, dan memanfaatkan deteksi dini, maka jutaan nyawa dapat diselamatkan. Sebab, napas yang sehat bukan sekadar urusan medis, melainkan fondasi bagi keluarga yang kuat, masyarakat yang produktif, dan bangsa yang lebih berkualitas. (*)
1 Agutus 2026, Hari Paru-Paru, paru-paru Menjerit,
