101 Ilmuwan Muda Muslim Diwisuda dalam Haflah Akhirussanah SMA Trensains Muhammadiyah Sragen

Direktur SMA Trensains Muhammadiyah Sragen, Mohammad Fahruroni, M.Pd.
www.majelistabligh.id -

Sebanyak 101 santri SMA Trensains Muhammadiyah Sragen diwisuda dalam Haflah Akhirussanah Angkatan Anthophila Generation SMA Trensains Muhammadiyah Sragen, di Sragen Jawa tengah, Ahad (10/5/2026). Para Anthophila Generation ini telah menuntaskan perjalanan intelektual dan spiritual mereka. Haflah Akhirussanah ini sekaligus menandai lahirnya generasi baru ilmuwan muda muslim.

Dengan semboyan “Love Quran dan Sains“, para lulusan ini membuktikan bahwa integrasi antara wahyu dan akal bukan sekadar retorika, melainkan prestasi nyata yang melampaui zaman.

Direktur SMA Trensains Muhammadiyah Sragen, Mohammad Fahruroni, M.Pd., dalam sambutannya mengungkap data yang membanggakan. Sebanyak 101 santri yang diwisuda hari ini telah mengoleksi total 1.083 prestasi. Jika dirata-rata, setiap anak menggenggam sedikitnya 10 prestasi, mulai dari level kabupaten hingga panggung internasional.

 

Para santriwati yang diwisuda
Para santriwati yang diwisuda

“Ini adalah bukti determinasi. Bayangkan, satu anak rata-rata membawa sepuluh prestasi. Koleksi medali dan piagam ini adalah modal kuat yang harus terus dikembangkan saat mereka melangkah ke jenjang perguruan tinggi nanti,” tegas Fahruroni di hadapan para wali santri dan tamu undangan.

Namun, di balik kegemilangan angka-angka tersebut, Fahruroni mengingatkan bahwa kesuksesan ini tidak jatuh dari langit. Ada harga mahal yang harus dibayar.

“Di balik senyum kebahagiaan hari ini, ada tetesan air mata dan pengorbanan yang luar biasa. Ada rindu yang tertahan dari wali santri, ada peluh guru yang tak kenal lelah, dan ada ekosistem pendidikan yang bekerja keras 24 jam. Ini adalah kemenangan kolektif,” imbuhnya.

Para wisudawan/wisudawati.
Para wisudawan/wisudawati SMA Trensains Muhammadiyah Sragen.

Riset sebagai Napas

SMA Trensains Muhammadiyah Sragen memosisikan diri berbeda dari pesantren pada umumnya. Di sini, santri tidak hanya bergulat dengan kitab klasik, tetapi juga bersahabat dengan metodologi ilmiah. Tantangan terberat dimulai sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di pesantren tiga tahun lalu.

Fahruroni mengajak hadirin melakukan flashback. Masa adaptasi di kelas 10 adalah fase krusial di mana santri bertransformasi dari siswa biasa menjadi calon saintis. Puncaknya terjadi di kelas 11, di mana setiap santri wajib menghasilkan karya tulis ilmiah.

“Kami tidak main-main dengan kualitas akademik. Selain aktif berorganisasi, santri kami wajib menulis. Bahkan, beberapa di antaranya sudah menembus publikasi di jurnal ilmiah. Ini adalah standar yang kami tetapkan agar mereka siap mengguncang dunia akademik,” jelasnya dengan nada tegas.

Pendidikan di Trensains Sragen dirancang untuk menjawab tantangan zaman. Fahruroni menekankan bahwa Anthophila Generation telah dibekali dengan senjata pamungkas Abad 21, yaitu formasi 4C, terdiri atas:

  1. Critical Thinking (Berpikir Kritis): Santri dididik untuk tidak menjadi penonton. Saat menyaksikan kondisi yang timpang, mereka dilatih untuk membedah masalah dan menemukan solusi konkret, bukan sekadar mengeluh.
  2. Creative (Kreatif): Kreativitas di Trensains lahir dari desakan keadaan. Santri diajarkan untuk tidak menyalahkan kondisi sesulit apa pun, melainkan mengubah keterbatasan menjadi peluang inovasi.
  3. Collaborative (Kolaboratif): Semangat korsa di sini sangat tinggi. Tidak ada ruang bagi egoisme. “Kerja sama yang dibangun luar biasa. Mereka tidak mau temannya tertinggal. Santri yang lebih mahir akan mengajar temannya karena mereka tidak rela ada satu pun kawan yang tidak naik kelas,” ungkap Fahruroni.
  4. Communicative (Komunikatif): Kemampuan menyampaikan ide adalah kunci. Santri dilatih melakukan komunikasi yang efektif, menyusun narasi yang kuat, dan meyakinkan dunia atas ide-ide brilian yang mereka miliki.

Lulusan Anthophila Generation kini resmi dilepas. Mereka bukan sekadar alumni, melainkan tenaga-tenaga kemajuan yang siap melesat, membawa misi besar Muhammadiyah untuk mencerahkan semesta melalui iman dan ilmu pengetahuan. Di tangan mereka, masa depan sains Islam Indonesia digantungkan.

Tidak hanya itu, di akhir acara, wali santri Lulusan Anthophila Generation menyerahkan wakaf pada pondok sebesar Rp378 juta. Dan wakaf tersebut akan digunakan untuk pembangunan kubah masjid pondok tersebut. || amsikul ma’arif

 

Tinggalkan Balasan

Search