Di tengah ancaman krisis iklim global, sebuah inovasi pendidikan alternatif lahir dari kawasan perbukitan Arfak, Manokwari, Papua Barat. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., meresmikan SMA Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) Manokwari pada Kamis (28/5/2026).
Sekolah ini menjadi institusi berbasis konservasi pertama milik Muhammadiyah di Indonesia yang memadukan pendidikan, pelestarian alam, dan nilai keberagaman dalam satu ekosistem pembelajaran.
Momentum tersebut sekaligus menandai peluncuran resmi Kurikulum Konservasi SMAMCO. Dikembangkan bersama Eco Bhinneka Muhammadiyah dan WWF Indonesia, kurikulum ini dirancang khusus sebagai model edukasi lingkungan yang mensinergikan nilai agama, sains, serta kearifan lokal.
Acara peresmian ini dihadiri oleh jajaran petinggi daerah, antara lain Sekretaris Daerah Papua Barat Ali Baham Temongmere, Bupati Manokwari Hermus Indou, Wakil Bupati Mugiyono, unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh adat, serta jajaran pengurus Muhammadiyah dan ’Aisyiyah Papua Barat.

Benteng Keanekaragaman Hayati
Kehadiran SMAMCO dinilai sangat strategis mengingat posisinya di Papua Barat, provinsi pertama dan satu-satunya di Indonesia yang mendeklarasikan diri sebagai Provinsi Konservasi. Dengan tutupan hutan mencapai 80 persen dari total wilayah daratannya, kawasan ini merupakan benteng terakhir keanekaragaman hayati Indonesia. Di sinilah SMAMCO mengambil peran, bukan sekadar mencetak lulusan akademik, melainkan melahirkan generasi penjaga bumi.
“SMAMCO Manokwari memiliki ciri khas yang sangat baik karena mengintegrasikan pendidikan dengan konservasi lingkungan. Ini selaras dengan arah kebijakan pemerintah dalam membangun generasi yang unggul sekaligus memiliki kesadaran menjaga alam,” ujar Abdul Mu’ti.
Mendikdasmen menambahkan bahwa orientasi pendidikan masa depan tidak boleh lagi terbatas pada aspek kognitif semata. Lembaga pendidikan wajib membangun karakter sosial, kesadaran ekologis, serta tanggung jawab kemanusiaan.
Daya tarik SMAMCO tidak hanya bertumpu pada pendekatan lingkungannya, tetapi juga pada inklusivitas yang hidup di dalamnya. Faktanya, sekitar 60 hingga 70 persen siswa di sekolah ini merupakan anak asli Papua yang beragama non-Muslim. Di ruang-ruang kelas sederhana kawasan Arfak, pendidikan menjelma menjadi ruang perjumpaan yang hangat bagi lintas identitas, agama, dan latar belakang sosial.
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Papua Barat, Dr. Mulyadi Djaya, mengungkapkan bahwa pendirian sekolah ini berakar dari kegelisahan atas kerusakan ekosistem yang kian nyata, sekaligus dorongan kuat untuk merawat harmoni sosial di Tanah Papua.
“SMAMCO adalah titik temu yang indah antara teologi Islam berkemajuan dan kearifan lokal Papua,” tutur Mulyadi.
Ia menjelaskan bahwa kurikulum sekolah mengadopsi falsafah masyarakat adat Suku Arfak, yaitu Igya Ser Hanjob, sebuah nilai luhur yang mengajarkan manusia untuk menjaga hutan dan alam sebagai sumber kehidupan.
Materi pembelajaran di SMAMCO disusun secara kontekstual dengan kehidupan masyarakat setempat. Para siswa akan mempelajari konservasi hutan Papua Barat, perlindungan satwa endemik, pemanfaatan pangan lokal, pelestarian ekosistem laut dan danau, hingga kewirausahaan hijau (green entrepreneurship) berbasis potensi daerah.
Agar tidak menjemukan, metode pembelajaran tidak melulu berpusat di dalam kelas. Siswa diajak berinteraksi langsung melalui praktik di alam terbuka, riset sederhana, proyek pelestarian lingkungan, serta aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. (*/tim)
