SMA Muhammadiyah Conservation Harus Dikembangkan di Indonesia

SMA Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) Manokwari. (ist)
www.majelistabligh.id -

Berdirinya SMA Muhammadiyah Conservation (SMAMCO) Manokwari sebagai institusi pendidikan berbasis konservasi pertama milik Muhammadiyah di Indonesia, menarik perhatian lembaga konservasi alam. Sebab lembaga ini menjadi satu-satunya sekolah dengan titik berat kurikulum pada pelestarian alam.

Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah, Hening Parlan, menegaskan bahwa pendidikan lingkungan hidup tidak boleh lagi sekadar menjadi wacana di dalam kelas, melainkan harus bertransformasi menjadi gerakan bersama lintas generasi dan agama.

“Krisis iklim dan kerusakan lingkungan tidak bisa diselesaikan hanya dengan teori. Anak-anak harus dibiasakan hidup selaras dengan alam, memahami ekosistemnya, dan membangun kesadaran bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama,” ujar Hening.

Melalui kolaborasi strategis antara Eco Bhinneka Muhammadiyah dan WWF Indonesia, kurikulum konservasi di SMAMCO dirancang khusus agar dapat menjadi cetak biru (blueprint) model pendidikan lingkungan. Model ini diharapkan dapat direplikasi secara nasional di berbagai daerah di Indonesia.

Menjaga Identitas Ekologis Papua

Pendekatan inovatif ini mendapat apresiasi tinggi dari Direktur Konservasi WWF Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki. Menurutnya, penerapan pendidikan berbasis konservasi di Papua Barat sangat krusial mengingat wilayah tersebut merupakan salah satu bentang alam dengan biodiversitas terpenting di dunia.

“Pendidikan konservasi harus ditanamkan sejak dini agar generasi muda tidak tercerabut dari identitas ekologisnya. Papua Barat memiliki kekayaan hayati yang luar biasa, dan anak-anak mudanya adalah benteng utama penjaga masa depan kawasan ini,” tegas Dewi.

Senada dengan hal tersebut, Head of Policy, Advocacy and Social Inclusion WWF, Diah Suriadiredja, menyoroti urgensi peran pendidikan dalam menghadapi eksploitasi sumber daya alam yang masif. Diah berharap model kontekstual seperti SMAMCO dapat diperluas untuk membangun benteng kesadaran ekologis generasi muda Indonesia di tengah ancaman perubahan iklim.

Sementara itu, Kepala SMAMCO Manokwari, Maesaroh, menegaskan bahwa sekolah ini membawa visi besar ke dalam realitas sehari-hari. Ia berkomitmen menghadirkan pendidikan yang membumi dan adaptif dengan realitas lingkungan sekitar.

“Kami ingin sekolah ini benar-benar mengimplementasikan nilai konservasi dalam keseharian. Anak-anak tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga turun langsung ke lapangan untuk memahami cara menjaga, merawat, dan terlibat dalam aksi konservasi nyata sejak dini,” jelas Maesaroh.

Berawal dari bangunan bekas klinik yang sederhana, sekolah ini kini telah berkembang memiliki 13 fasilitas pendidikan yang dibangun secara gotong royong hanya dalam waktu empat bulan.

Tidak hanya tumbuh secara fisik, para siswa SMAMCO juga mulai mengukir prestasi di bidang olahraga, seni, dan lingkungan hidup. Salah satu capaian membanggakan adalah keberhasilan mereka menyabet juara dalam lomba berkebun di lahan sempit dan kering yang diinisiasi oleh Bank Indonesia Papua Barat.

Dari lereng Bukit Arfak, SMAMCO Manokwari kini mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri, bahwa pendidikan masa depan tidak boleh hanya fokus mencetak manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga harus melahirkan generasi yang mencintai bumi, merawat keberagaman, dan menumbuhkan harapan baru bagi masa depan Tanah Papua. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search