Akal Tanpa Wahyu: Kemajuan atau Kehilangan Arah?

Akal Tanpa Wahyu: Kemajuan atau Kehilangan Arah?
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan Pengasuh Kajian Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek
www.majelistabligh.id -

Epistemologi modern pada awalnya lahir sebagai gerakan emansipatoris. Ia muncul dari pergulatan panjang manusia Eropa melawan dominasi gereja abad pertengahan yang kala itu memonopoli kebenaran. Gereja bukan hanya mengatur urusan spiritual, tetapi juga menentukan apa yang boleh dipikirkan, diteliti, bahkan dipercaya. Kebenaran menjadi sentralistik, dan akal manusia perlahan kehilangan kebebasannya.

Dalam situasi itulah modernitas lahir.

Manusia mulai mempertanyakan otoritas. Keraguan dianggap sebagai jalan pembebasan. Rasionalitas dijadikan senjata untuk melawan dogma. Maka lahirlah semboyan-semboyan besar modernitas: berpikirlah sendiri, verifikasi segala sesuatu, jangan tunduk pada otoritas tanpa kritik.

Di titik ini, epistemologi modern memainkan peran besar bagi kemajuan manusia. Ia membebaskan ilmu dari kungkungan taklid, membuka ruang riset, melahirkan sains, teknologi, dan revolusi intelektual besar-besaran. Dunia berubah karena manusia mulai berani bertanya.

Namun tragedi modernitas mulai tampak ketika semangat pembebasan itu berubah arah.

Awalnya manusia hanya ingin melawan monopoli gereja atas kebenaran. Tetapi perlahan akal tidak lagi sekadar alat mencari kebenaran—ia mulai dinobatkan sebagai sumber kebenaran tertinggi. Dari sinilah modernitas bergerak:

– dari anti-dogmatisme menuju dogma baru,

-dari kritik terhadap otoritas menuju absolutisme rasionalitas,

-dari pembebasan menuju pendewaan akal.

Tuhan mulai dipinggirkan dari ruang pengetahuan. Wahyu dianggap irasional. Metafisika dicurigai. Yang dianggap nyata hanyalah yang bisa diukur, diuji, dan dihitung.

Akibatnya manusia modern memang berhasil menaklukkan alam, tetapi sering gagal memahami dirinya sendiri.

Teknologi berkembang luar biasa, namun kegelisahan jiwa meningkat. Informasi melimpah, tetapi makna menghilang. Manusia modern mampu menjelaskan bagaimana dunia bekerja, tetapi semakin bingung untuk apa ia hidup.

Di sinilah krisis epistemologi modern bermula: akal dibebani tugas yang melampaui kapasitasnya sendiri.

Padahal akal adalah anugerah besar, tetapi ia tetap terbatas. Akal mampu membaca fenomena, namun tidak selalu mampu menjangkau makna terdalam keberadaan. Ia dapat menghitung kecepatan cahaya, tetapi tidak dapat mengukur ketenangan hati. Ia bisa menciptakan kecerdasan buatan, tetapi tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan.

Berbeda dengan tradisi sekular modern, Al-Qur’an tidak pernah memusuhi akal. Justru wahyu berkali-kali memerintahkan manusia berpikir, merenung, dan bertanya:

أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Tidakkah kalian berpikir?

Namun Islam juga tidak mendewakan akal. Akal diposisikan sebagai instrumen pencari kebenaran yang membutuhkan bimbingan wahyu. Sebab tanpa petunjuk transenden, akal dapat tersesat oleh ego, hawa nafsu, kepentingan, dan kesombongan intelektualnya sendiri.

Karena itu problem modernitas bukan terletak pada keberanian berpikir, tetapi pada ketika manusia menjadikan pikirannya sendiri sebagai tuhan baru.

Dari sinilah kita melihat ironi besar sejarah modern: manusia awalnya ingin bebas dari tirani otoritas, tetapi akhirnya justru terjebak dalam tirani akalnya sendiri. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search