Membunuh Rasa Kepemilikan

Membunuh Rasa Kepemilikan
*) Oleh : M. Mahmud, M.Pd.I
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur.
www.majelistabligh.id -

Ibrahim punya Ismail. Ismailmu mungkin hartamu, Ismailmu mungkin jabatanmu, Ismailmu mungkin gelarmu. Ismail adalah suatu hal yang kita cintai di dunia ini. Allah tidak memerintahkan Ibrahim untuk membunuh Ismail akan tetapi Allah memrintahkan Ibrahim untuk membunuh rasa kepemilikan terhadap Ismail karena sejatinya semua di dunia ini adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya lah tempat kembali

Secara psikologis maupun spiritual, rasa kepemilikan sering dianggap sebagai akar keterikatan yang menimbulkan kecemasan, konflik, bahkan penderitaan. Membunuh rasa kepemilikan bukan berarti menolak memiliki sesuatu secara fisik, melainkan melepaskan keterikatan emosional yang berlebihan terhadap apa yang kita anggap “milik kita”.

Beberapa sudut pandang yang bisa menjelaskan makna ini:

Psikologi keterikatan Rasa kepemilikan bisa membuat seseorang sulit menerima kehilangan. Melepaskan keterikatan berarti belajar menerima bahwa segala sesuatu bersifat sementara.

Filosofi Stoik Kaum Stoik mengajarkan bahwa kita tidak benar-benar memiliki apa pun selain kendali atas pikiran dan tindakan kita. Segala hal eksternal bisa hilang sewaktu-waktu.

Spiritualitas Timur Dalam Buddhisme, konsep “tanpa diri” (anatta) menekankan bahwa kepemilikan hanyalah ilusi. Membunuh rasa kepemilikan berarti membebaskan diri dari penderitaan akibat keterikatan.

Kehidupan sehari-hari Praktiknya bisa berupa berbagi, tidak terlalu mengidentifikasi diri dengan harta benda, atau menerima perubahan tanpa perlawanan.

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail memang sarat makna, bukan sekadar tentang pengorbanan fisik, melainkan tentang pengorbanan batin. Allah tidak meminta Ibrahim untuk benar-benar menghilangkan Ismail, tetapi untuk melepaskan rasa kepemilikan atas sesuatu yang paling dicintainya.

Pesan utamanya adalah:

Ismail sebagai simbol Ismail bisa berupa anak, harta, jabatan, gelar, atau apa pun yang kita cintai di dunia.

Melepaskan keterikatan Allah mengajarkan bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan. Kita tidak benar-benar “memiliki” apa pun.

Tauhid sejati Dengan membunuh rasa kepemilikan, kita menegaskan bahwa hanya Allah-lah Pemilik sejati, dan kepada-Nya lah segala sesuatu kembali.

Ujian keimanan Perintah itu adalah ujian untuk menakar sejauh mana Ibrahim menempatkan cintanya kepada Allah di atas segala sesuatu.

Bahwa inti pengorbanan bukanlah kehilangan, melainkan penyerahan total kepada Allah. Itulah yang membuat kisah Ibrahim relevan sepanjang zaman: setiap orang punya “Ismail” masing-masing, dan ujian hidup sering kali adalah bagaimana kita rela menyerahkan “Ismail” itu kepada Allah.

Perspektif Tasawuf

Fana’ dalam tasawuf Membunuh rasa kepemilikan berarti mencapai keadaan fana’, yaitu meleburkan ego dan kesadaran diri dalam kehendak Allah.

Mati sebelum mati Para sufi menekankan latihan spiritual untuk “mati sebelum mati” melepaskan keterikatan duniawi sebelum ajal menjemput, agar jiwa benar-benar bebas.

Cinta Ilahi Rumi dan para sufi lain menekankan bahwa cinta sejati adalah cinta kepada Allah, bukan kepada makhluk. Membunuh rasa kepemilikan adalah jalan menuju cinta Ilahi yang murni.

Ayat Al-Qur’an yang paling jelas menggambarkan ujian Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah QS. Ash-Shaffat ayat 102–107. Ayat ini menekankan bukan sekadar perintah menyembelih Ismail, melainkan ujian untuk “membunuh rasa kepemilikan” menegaskan bahwa cinta kepada Allah harus mengalahkan cinta kepada segala sesuatu di dunia.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ
102. Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

103. Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah Allah),

104. Kami memanggil dia, “Wahai Ibrahim,

105. Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

107. Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar.

Ayat ini menunjukkan kepasrahan total Ibrahim dan Ismail, di mana keduanya rela menyerahkan sesuatu yang paling dicintai demi Allah. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search