Empat belas abad yang lalu, sejarah mencatat suatu masa yang dikenal sebagai zaman jahiliah. Zaman di mana manusia kehilangan moral dan tercabut dari nilai-nilai kemanusiaan. Yang kuat menindas yang lemah, dan perempuan kehilangan martabatnya.
Kini, zaman itu tidak lagi ada. kita bersyukur tidak lagi hidup pada zaman yang sama. Peradaban telah melompat jauh. Ilmu pengetahuan berkembang tanpa batas, dan tidak ada lagi bayi perempuan yang dibunuh saat dilahirkan hanya karena kehadirannya dianggap sebagai aib.
Segala nikmat yang kita rasakan saat ini, adalah anugerah dan karunia yang wajib kita syukuri. Bayangkan, jika saat ini kita hidup di zaman jahiliah, mungkin aktivitas sehari-hari kita hanyalah berperang, merampok, dan saling membunuh. Tentunya perubahan besar dalam sejarah peradaban manusia itu tidak terjadi secara kebetulan. Di baliknya terdapat perjuangan yang begitu agung dari seorang Rasul pilihan Allah Swt, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dialah Baginda Nabi Muhammad saw, yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk membebaskan manusia dari belenggu kejahilan.
Transformasi yang dibawa Rasulullah saw merupakan sebuah lompatan peradaban yang berakar pada nilai-nilai tauhid, pengembangan ilmu pengetahuan, penegakan keadilan, penguatan kasih sayang, serta penghormatan terhadap martabat manusia.
Innamā bu’itstu li utammima makärimal akhlaq. “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
Begitulah kata Nabi. Hadis tersebut menjadi kunci untuk memahami mengapa perubahan yang dibawa Muhammad saw mampu mengubah sejarah peradaban manusia.
Beliau memulai dakwahnya dengan membangun akhlak manusia. Sebab, akhlak adalah fondasi dari setiap peradaban. Ketika akhlak tegak, keadilan akan tumbuh. Ilmu pengetahuan akan membawa manfaat, kekuasaan akan dijalankan dengan amanah, dan kasih sayang akan menjadi perekat kehidupan bermasyarakat.
Hari ini, kita memeringati hari kelahiran manusia paling mulia, Nabi Muhammad saw. Sosok agung yang diutus Allah Swt sebagai rahmat bagi seluruh alam. Memang kita tidak hidup sezaman dengan beliau. Kita belum pernah melihat senyumnya. Kita juga belum pernah menggenggam tangannya, ataupun mendengar langsung kelembutan suaranya. Kita hanya mengetahuinya dari cerita dan data-data sejarah.
Namun, keterpisahan oleh ruang dan waktu tidak pernah mengurangi cinta kita kepada Rasulullah saw. Rasa cinta itu akan senantiasa bersemi untuk manusia yang senantiasa memikirkan, mendoakan dan memohonkan ampun bagi umatnya. Bahkan di akhir hayatnya, Rasulullah saw masih memikirkan umatnya, “ummatii…..ummatii…ummatii”
Akhir kata, saya atas nama Menteri Agama Republik Indonesia, mengucapkan: Selamat memeringati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/ 2026 M.
Melalui peringatan ini, semoga Allah Swt memberikan kita kekuatan untuk senantiasa meneladani akhlaknya, dan menghidupkan ajarannya.
Dan semoga kita semua menjadi bagian dari umat yang kelak memperoleh syafaat beliau di hari kemudian, aamiin. (*)
