Dalam hidup, Allah memberi kita banyak pilihan: ada yang melalaikan, ada yang menyadarkan. Dengan akal yang Allah titipkan sebagai amanah, sudah seharusnya kita memilih hal-hal yang mengingatkan kita kepada-Nya selaku pemberi nikmat akal sehat.
Begitu besar kasih sayang Allah, sampai-sampai Dia terus mengingatkan kita lewat ayat-ayat-Nya. Namun, coba kita tanya diri sendiri: seberapa sering kita membaca, merenungi, atau bahkan sekadar mendengarkan Al-Qur’an dibanding hal-hal lain yang melalaikan?
Sayangnya, kita sering lebih sibuk dengan hal yang kurang bermanfaat. Al-Qur’an hanya dibaca sesekali, bahkan ada yang berbulan-bulan tidak menyentuhnya. Kalaupun dibaca, sering belum disertai pemahaman dan perenungan.
Sementara itu, pikiran kita justru dipenuhi oleh hal-hal yang melalaikan.
Semoga kita termasuk orang yang kembali dekat dengan Al-Qur’an, bukan yang menjauhinya.
Jika kita benar-benar menyadari bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah, maka tidak pantas ia hanya menjadi bacaan sesekali. Ia adalah pedoman utama hidup, yang seharusnya didahulukan di atas hawa nafsu, kebiasaan, dan penilaian manusia.
Allah ﷻ sendiri menegaskan fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup,
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.”(QS. الإسراء: 9)
Bukan hanya itu, Al-Qur’an juga diturunkan untuk direnungi dan diamalkan, bukan sekadar dibaca,
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. ص: 29)
Bahkan Rasulullah ﷺ kelak mengadukan kondisi umat yang menjauh dari Al-Qur’an,
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
“Dan Rasul berkata: ‘Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.’” (QS. الفرقان: 30)
Ayat-ayat ini seharusnya cukup menjadi tamparan keras bagi kita. Masalah kita hari ini bukan tidak punya pedoman—tetapi tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama.
Kita sering membalik urutan, mengikuti keinginan, lalu mencari pembenaran. Padahal seharusnya kita mencari petunjuk terlebih dahulu, lalu menundukkan diri kepadanya.
Maka titik baliknya jelas, bukan sekadar membaca Al-Qur’an, tetapi menjadikannya sebagai standar berpikir, sumber nilai, dan penentu arah hidup.
Karena hidup tanpa Al-Qur’an sebagai pedoman, pada akhirnya hanyalah perjalanan tanpa arah—meski tampak sibuk dan penuh aktivitas. Jika Al-Qur’an benar-benar kita yakini sebagai pedoman hidup, maka pertanyaannya bukan lagi “apakah kita membacanya?”, tapi “sudahkah kita hidup dengannya?”
Realitanya, banyak dari kita bukan tidak mampu, tapi belum terbiasa. Waktu ada, tapi lebih sering habis untuk hal lain. Hati ingin dekat dengan Al-Qur’an, tapi kalah oleh kebiasaan yang terus diulang. Di sinilah letak ujiannya: bukan pada sulitnya, tapi pada konsistensi kita.
Maka mulailah dari yang sederhana, tapi nyata; Luangkan waktu setiap hari untuk tilawah, walau hanya beberapa ayat. Jangan sekadar membaca, tapi coba pahami satu makna yang bisa diamalkan. Saat menghadapi masalah, biasakan bertanya, “Apa petunjuk Al-Qur’an dalam hal ini?”
Karena kedekatan dengan Al-Qur’an tidak dibangun dalam satu malam, tapi dari langkah-langkah kecil yang dijaga terus-menerus.
Sadarilah, hati yang jauh dari Al-Qur’an akan mudah kosong, gelisah, dan kehilangan arah. Sebaliknya, hati yang dekat dengannya akan lebih tenang, lebih terjaga, dan lebih tahu ke mana harus melangkah.
Maka jangan tunggu waktu luang untuk kembali kepada Al-Qur’an. Justru dengan Al-Qur’an, hidup kita akan menjadi lebih terarah.
Mulai hari ini, jangan biarkan satu hari berlalu tanpa Al-Qur’an. Walau hanya sebentar, tapi jadikan ia bagian dari hidup kita—bukan sekadar hiasan, tapi benar-benar sebagai pedoman.
Baarakallahu fiikum.
