Alasan Struktur Muhammadiyah Tiada Dewan Syuro

Haedar Nashir
www.majelistabligh.id -

Struktur kepemimpinan Muhammadiyah memiliki keunikan tersendiri dengan tidak menghadirkan fungsi Dewan Syuro. Hal ini dikarenakan peran spiritual authority (pemimpin spiritual) dan instrumental authority (manajer operasional) melekat dan menyatu pada figur ketua di setiap tingkatan, mulai dari Pusat, Wilayah, Daerah, hingga Cabang.

Penjelasan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam acara Training High Impact Leader and Manager yang diselenggarakan oleh Pusdiklat PP Muhammadiyah di Hotel Grand Rohan, Yogyakarta, Jumat (4/9/2026).

“Kami menyatukan seluruh fungsi tersebut. Siapa pun yang dipercaya memimpin di lingkungan PP Muhammadiyah hingga PWM, pada dasarnya adalah seorang pemimpin yang wajib memiliki kemampuan manajerial,” tegas Haedar.

Menurut Haedar, kepemimpinan di Muhammadiyah tidak cukup sekadar mengandalkan wibawa spiritual. Begitu seseorang terpilih atau diberi amanah kepemimpinan, ia secara otomatis dituntut untuk menguasai tata kelola organisasi secara manajerial. Integrasi inilah yang membuat posisi kiai sekaligus manajer berada dalam satu koordinasi kepemimpinan.

Perumusan Program Berbasis Kerangka Keilmuan

Selain menyoroti konsep kepemimpinan, Haedar juga membagikan pengalamannya dalam mendesain kerangka kebijakan program kerja organisasi. Ia mengungkapkan, sejak era kepemimpinan Din Syamsuddin, penyusunan program di Muhammadiyah selalu berlandaskan pendekatan ilmiah dan kajian akademis.

Kala itu, PP Muhammadiyah bahkan menghadirkan Andrew E.B. Tani—penulis buku Get Real: Berdayakan Manager-Leader dalam Diri Anda—untuk memperkaya perspektif perumusan program.

Kendati demikian, Muhammadiyah tidak menelan mentah-mentah seluruh teori Barat tersebut. Melalui diskusi yang mendalam, para pimpinan menyaring teori yang benar-benar relevan dengan kebutuhan organisasi.

“Kebijakan dan desain format program di PP Muhammadiyah merupakan hasil kerja-kerja keilmuan, bukan asal dirumuskan,” jelas Haedar.

Ia menambahkan bahwa Muhammadiyah selalu terbuka terhadap perkembangan teori kepemimpinan dan manajemen modern, tanpa mengesampingkan pengalaman riil di lapangan agar keduanya saling melengkapi. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search