Walaupun Indonesia dan Negara Timur Tengah secara letak geografis sangat jauh, namun hubungan antara kedua region tersebut dirasa sangat dekat, karena memiliki spiritual culture yang sama. Demikian diungkap oleh Yuli Mumpuni Widarso, Duta Besar RI untuk Aljazair 2008-2011 dan Duta Besar RI untuk Spanyol 2013-2017.
“Ada personal attachment kita dengan saudara-saudara muslim di wilayah sana. Maka tak heran apabila apapun yang terjadi, rasanya kita juga merasakan langsung, terlebih Palestina yang belum memiliki kemerdekaan sepenuhnya,” jelas Yuli dalam “Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah: Perang Timur Tengah dan Dampaknya Bagi Indonesia”.
Yuli mengungkap, meskipun kemerdekaan Palestina sudah dinyatakan oleh Yaser Arafat, seorang tokoh sentral dalam perjuangan rakyat Palestina. Namun hingga saat ini, Palestina belum mendapat hak kemerdekaan sepenuhnya. Tanahnya masih dijajah, bahkan permintaan menjadi anggota penuh di PBB belum sepenuhnya diterima.
“Inilah mengapa masih menjadi utang bagi kita. Karena saat Konferensi Asia di Bandung, semua negara Asia-Afrika kita dorong untuk merdeka. Sudah pernyataan kemerdekaan, tetapi kok situasinya masih terjajah,” lanjutnya.
Ikatan persaudaraan antara Indonesia dan Palestina dinilainya sangat luar biasa. Mengutip pernyataan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, Yuli menyebut bahwa penjajahan adalah hal zalim yang harus ditumpaskan.
“Penjajahan itu zalim, dan kita anti zalim,” ujarnya mengutip pernyataan Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.
Perang dalam Perspektif Geopolitik dan Perspektif Islamiyah
Maka dari itu, ia menekankan bahwa situasi penjajahan yang bisa berakibat kepada “perang” harus dihindarkan. Selain itu, perang tidak boleh dilakukan dengan keji dan melanggar aturan hukum.
“Perang merupakan situasi kompleks yang melibatkan beberapa dimensi seperti kemanusiaan, geopolitik,dan prinsip-prinsip syariah. Maka, perang ini adalah pilihan terakhir jika kita dihadapkan pada situasi darurat,” ujarnya.
Untuk terhindar dari perang, maka suatu negara harus memiliki power yang mumpuni baik dalam sektor sumber daya alam, maupun sumber daya manusianya.
Lebih lanjut, ia juga menjelaskan harus ada keseimbangan antara environment domestik dan environment internasional. Sebab, situasi politik atau geopolitik suatu negara akan sangat ditentukan oleh lingkungannya. Apakah lingkungannya damai, atau bahkan membuat suatu negara terancam.
“Ada sindrom negara kecil yang dua pilihannya. Dia memerangi tetangganya, atau dia membuat koneksi dengan tetangganya. Di ASEAN sendiri kita memilih membuat koneksi dengan tetangga kita dan kita punya Treaty of Amity and Cooperation di Southeast Asia, sehingga kita suasana kerjasamanya relatif damai,” papar Yuli.
Berbalik dari hal itu, Yuli menjelaskan situasi di Timur Tengah sangat berbeda. Walaupun Timur Tengah memiliki Middle East Development Cooperation, ia menjelaskan bahwa hal itu tidak pernah bisa jalan karena terdapat suatu sindrom dari negara kecil Israel yang mampu memprovokasi negara super power Amerika untuk kemudian menimbulkan konflik di wilayah timur tengah.
“Sindrom negara kecil (Israel) ini luar biasa bandelnya. Nah, inilah yang menjadi alasan utama mengapa di wilayah itu selalu panas, meskipun Sumber Daya Alamnya luar biasa, tapi wilayah itu tidak pernah damai. Selalu ada gesekan-gesekan utamanya karena provokasi dari Zionis Israel,” ucap Yuli.
Dalam perspektif Islam maupun Hukum Internasional, perang tidak boleh melanggar hukum, tidak boleh dilakukan secara brutal dan jahat. Artinya tidak melibatkan warga sipil, anak-anak, perempuan yang tidak berdosa. Tapi yang dilakukan Amerika dan Israel adalah melabrak itu semua, dan ini luar biasa zalimnya. (*/tim)
