Antara Tembang, Kajian, dan Ketulusan Prof. Siti Chamamah

Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno, M.S.
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Ada ruang ingatan yang selalu berbau kertas tua, kopi, dan senandung tembang macapat di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) maupun Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gajah Mada (UGM).

Bagi siapa pun yang pernah menimba ilmu di sana, nama Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno, M.S. adalah definisi perpaduan antara ketajaman intelektual, kedalaman spiritual, dan kelembutan seorang ibu. Tidak heran ada duka mendalam saat mendengar Prof. Siti Chamamah wafat. Perempuan yang tidak berhenti berjuang itu telah meninggalkan kita semua.

Almarhumah tidak hanya hidup untuk meneliti; ia hidup untuk merawat. Merawat jiwa Nusantara melalui kajian sastra, dan merawat umat melalui perjuangan panjangnya di persyarikatan Aisyiyah.

Di era ketika kajian sastra sering kali terjebak pada dekonstruksi teks yang kering dan berjarak dari realitas, Prof. Siti Chamamah hadir dengan pendekatan yang berbeda. Bagi beliau, Sastra Jawa dan Sastra Nusantara bukanlah sekadar objek mati di atas meja bedah akademis. Sastra adalah urip (kehidupan), adalah cermin moral, dan napas peradaban.

Sebagai guru besar, rekam jejak keilmuannya sangat monumental. Puluhan buku, jurnal, dan makalah telah ia lahirkan, membedah nilai-nilai filosofis dalam wayang, tembang, dan karya sastra klasik Nusantara. Namun, bobot keilmuannya tidak pernah membuatnya angkuh.

Bagi almarhumah, meneliti sastra adalah bentuk laku prihatin dan ibadah. Ia sering mengingatkan para mahasiswanya bahwa memahami sastra Jawa berarti memahami karakter bangsa ini.

Melalui kajiannya, ia mengajarkan bahwa nilai-nilai seperti tepa selira (tenggang rasa), andhap asor (kerendahan hati), dan memayu hayuning bawana (memperindah keindahan dunia) bukanlah konsep usang, melainkan resep paling ampuh bagi krisis moral bangsa di era modern. Ia adalah penjaga gawang kebudayaan yang tak kenal lelah, memastikan bahwa akar budaya kita tidak tercabut oleh badai globalisasi.

Perjuangan di Tubuh Aisyiyah

Di luar ruang kelas dan ruang penelitian, Prof. Siti Chamamah adalah perempuan persyarikatan sejati. Dedikasinya kepada Aisyiyah—organisasi perempuan terbesar di Indonesia dan sayap Muhammadiyah—adalah manifestasi dari keyakinannya bahwa Islam dan kebudayaan Nusantara adalah dua saudara yang tidak bisa dipisahkan.

Perjuangan almarhumah di Aisyiyah, termasuk saat beliau mengemban amanah di tingkat Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah, bukanlah perjuangan yang selalu berteriak di jalanan. Tapi perjuangan seorang intelektual dan kultural yang sunyi namun mengakar kuat.

Di saat banyak pihak yang mempertentangkan antara nilai-nilai Islam yang dibawa Muhammadiyah dengan tradisi lokal, Prof. Siti Chamamah hadir sebagai jembatan. Melalui Majelis dan forum-forum kultural di Aisyiyah, ia gigih memperjuangkan narasi bahwa menjadi perempuan Muslim yang modern, progresif, dan berdaya, tidak berarti harus mencabut akar budaya sendiri.

Ia memperjuangkan agar seni dan budaya tidak dipandang sebagai hiburan, melainkan sebagai media dakwah kultum (kuliah tujuh menit) yang paling efektif. Ia mendorong kader-kader Aisyiyah untuk melek budaya, menulis, dan menghasilkan karya, sehingga perempuan Muhammadiyah tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan, tetapi produsen peradaban.

Bagi almarhumah, memajukan pendidikan dan budaya di Aisyiyah adalah cara paling elegan untuk memuliakan perempuan.

Keteladanan yang Tak Tergantikan

Namun, di balik semua pencapaian akademis dan organisasinya, ada satu hal yang membuat sosok Prof. Siti Chamamah begitu dicintai: ketulusannya sebagai seorang “Ibu”.

Para mantan mahasiswanya sering bercerita tentang bagaimana almarhumah dengan sabar membimbing skripsi atau tesis. Beliau tidak hanya mengoreksi tata tulis atau metodologi; ia mengoreksi “jiwa” dari tulisan tersebut. Ia sering mengajak mahasiswa berdiskusi hingga larut, bukan dengan posisi dosen yang menggurui, melainkan dengan posisi ibu yang menuntun anak-anaknya menemukan jati diri.

Bahkan di masa-masa terakhirnya, ketika kondisi fisik mulai menurun dimakan usia dan penyakit, ketajaman berpikir dan kehangatan senyumnya tidak pernah luntur. Fisiknya mungkin rapuh, namun semangatnya untuk melihat mahasiswa-mahasiswanya sukses, dan melihat Aisyiyah terus berkemajuan, tetap membara.

Ia mengajarkan bahwa menjadi intelektual bukan tentang seberapa banyak buku yang ditulis, tetapi tentang seberapa banyak hati yang disentuh dan seberapa banyak manfaat yang ditinggalkan.

Tembang yang Tak Pernah Berakhir

Kepergian Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno meninggalkan duka yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga, civitas akademika UNY, UGM, dan UIN Sunan Kalijaga, dan ribuan mahasiswa yang pernah dididiknya, juga bagi seluruh kader Aisyiyah dan Muhammadiyah.

Namun, bagi mereka yang memahami filosofi Jawa yang begitu ia cintai, kematian bukanlah akhir. Ia adalah pulang.

Prof. Siti Chamamah telah menyelesaikan lakunya di dunia ini dengan sangat indah. Ia meninggalkan warisan yang tak akan lapuk oleh hujan, tak akan lekang oleh panas. Warisan itu ada dalam setiap mahasiswa yang kini mengajar sastra dengan penuh cinta. Warisan itu ada dalam setiap kader Aisyiyah yang berjuang memajukan pendidikan dan budaya dengan keikhlasan.

Seperti tembang macapat yang syairnya terus bergema dari generasi ke generasi, jejak langkah, ketulusan, dan keilmuan Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno akan terus hidup. Ia telah membuktikan bahwa setinggi apa pun puncak keilmuan yang diraih, seorang perempuan tetap bisa membumi, tetap menjadi ibu, dan tetap menjadi pelayan umat yang paling setia.

Selamat jalan, Ibu. Tembangmu telah kami hafalkan, dan jalanmu akan kami teruskan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search