Pertanyaan apakah meninggal dunia itu musibah?. Kalau musibah itu jelek berarti orang meninggal itu jelek. Bukankah mati itu puncaknya kehidupan, bukankah mati itu adalah kebebasan, bukankah mati itu hadiah dari Allah SWT, bertahun tahun menderita hari ini dibebaskan semua rasa sakit tersebut dan kamu pulang. Apa yang salah dengan kematian. Dan sampai hari ini semua kita mengatakan kematian adalah musibah.
Secara umum, meninggal dunia bisa dipandang dari dua sudut:
Perspektif Duniawi
• Bagi keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan, kematian sering dianggap musibah karena membawa kesedihan, kehilangan, dan perubahan besar dalam hidup.
• Musibah di sini berarti ujian berat yang mengguncang hati, menguji kesabaran, dan menuntut penerimaan.
Perspektif Spiritual
• Dalam pandangan iman, meninggal dunia bukanlah semata musibah, melainkan kepastian dan pintu menuju kehidupan abadi.
• Al-Qur’an menyebut kematian sebagai ajal yang telah ditentukan (QS. Al-Ankabut: 57). Ia bukan kecelakaan, melainkan bagian dari takdir Allah.
• Maka, kematian bisa menjadi rahmat bagi orang beriman, karena ia mengakhiri penderitaan dunia dan membuka jalan menuju pertemuan dengan Allah.
Dalam perspektif Al-Qur’an, meninggal dunia bukan disebut sebagai musibah melainkan sebagai ajal (ketetapan Allah yang pasti). Musibah dalam Al-Qur’an lebih merujuk pada ujian berupa kehilangan, penderitaan, atau bencana; sedangkan kematian adalah bagian dari takdir yang sudah tertulis di Lauhul Mahfudz.
Penjelasan Al-Qur’an tentang Musibah dan Kematian
1. Musibah dalam Al-Qur’an
• QS. Asy-Syura: 30
وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”
Musibah di sini adalah ujian atau teguran akibat dosa manusia.
• QS. Al-Baqarah: 155–156
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ
وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ
155. Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar,
156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali).
Musibah adalah bentuk ujian, bukan sekadar peristiwa buruk.
• QS. Al-Hadid: 22
مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗ
اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab sebelum Kami mewujudkannya.”
Musibah adalah segala hal yang menimpa manusia, baik nikmat maupun ujian
2. Kematian dalam Al-Qur’an
• QS. Al-Ankabut: 57
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ ثُمَّ اِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
“Setiap jiwa pasti akan merasakan mati, kemudian hanya kepada Kami kamu akan dikembalikan.”
Kematian adalah kepastian, bukan musibah.
• QS. Ali Imran: 145
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلًا ۗ
“Seseorang tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan.”
Kematian adalah ajal, bukan bencana.
• Musibah lebih tepat disematkan pada cara kita merespons kematian: apakah kita larut dalam kesedihan tanpa arah, atau menjadikannya momentum untuk sabar, ikhlas, dan memperbaiki diri.
• Kematian itu sendiri bukan musibah, melainkan ketetapan Allah. Yang menjadi musibah adalah ketika hati tidak siap menerima, atau ketika kematian datang dalam keadaan lalai dan jauh dari Allah. (*)
