Sejarah mencatat denyut nadi spiritualitas di balik dinding kekuasaan Orde Baru. Di tengah hiruk-pikuk Pembangunan Lima Tahun (Pelita), sebuah tanya kecil muncul dari seorang bocah kelas 3 SD bernama Tyar Fitriyanyah Ahyar. Melalui goresan tinta tertanggal 20 Oktober 1984, Tyar melontarkan sebuah pertanyaan polos namun tajam: “Kok Pak Presiden belum menunaikan haji?” Pertanyaan itu untuk Pak Harto, Presiden Republik Indonesia.
Pertanyaan itu bukan sekadar rasa ingin tahu anak kecil, melainkan sebuah cermin yang memaksa Sang Jenderal Besar untuk berkaca. Tujuh tahun kemudian, pada 16 Juni 1991, jawaban atas tanya itu pun tunai. Presiden Soeharto berangkat ke Tanah Suci, membuktikan bahwa bagi seorang pemimpin, panggilan Tuhan bukanlah soal waktu luang, melainkan soal kematangan niat.
Bagi Soeharto, menunda rukun Islam kelima bukan tentang absennya keimanan. Sejak kepulangannya dari ibadah Umrah pada tahun 1978, getar kerinduan pada Baitullah sebenarnya tak terbantah. Namun, ia berdiri di atas sebuah prinsip yang keras, kepentingan rakyat adalah yang utama.

Ia pernah berujar bahwa saat itu, Indonesia masih membutuhkan tenaga dan pemikiran penuh untuk memacu roda pembangunan. Ia memilih untuk menunda kenikmatan spiritual pribadi demi memastikan stabilitas nasional. Baginya, memimpin adalah sebuah pengabdian yang sering kali menuntut pengorbanan ego, bahkan ego untuk segera bersujud di depan Kakbah.
Gema di Padang Arafah
Setibanya di Jeddah pada 17 Juni 1991, penghormatan luar biasa diberikan oleh Kerajaan Arab Saudi. Sebagai pemimpin negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Soeharto disambut dengan karpet merah oleh Pangeran Majid bin Abdul Azis. Nama Indonesia harum di sana.
Namun, di tengah kemegahan fasilitas kerajaan dan pengawalan tentara Saudi, ada sisi kemanusiaan yang tak bisa disembunyikan. Saat ritual lempar jumrah, gema suara pecah di udara: “Assalamu’alaikum Rois Indonisi! Assalamu’alaikum Rois Indonisi!” Sapaan itu adalah pengakuan tulus dari umat Muslim dunia pada sang Pemimpin Indonesia.
Yang paling menggetarkan adalah sikapnya saat wukuf di Arafah. Di bawah sengatan matahari yang membakar kulit, Soeharto menolak tenda khusus yang megah dari kerajaan. Ia memilih untuk melebur, duduk bersimpuh di tengah-tengah jamaah haji Indonesia lainnya. Di hadapan Tuhan, ia melepaskan lencana jenderalnya; ia hanyalah seorang hamba yang debu di kakinya sama dengan debu di kaki rakyatnya.
Ibadah dari Kantong Sendiri
Di era modern di mana fasilitas negara sering kali disalahgunakan untuk kepentingan pribadi, kisah Haji Soeharto adalah sebuah teguran keras bagi integritas. Ia bersikeras bahwa haji adalah urusan privat antara dirinya dengan Sang Pencipta. Ia menolak dibiayai negara.
Tidak hanya untuk dirinya, seluruh biaya Paspampres dan rombongan pendukung dibayar dari dompet pribadinya. Ia tak ingin Departemen Agama direpotkan oleh urusan logistik pribadinya. Ini adalah sikap tegas seorang pemimpin yang tahu cara memisahkan antara harta rakyat dan kewajiban hamba. Di titik ini, Soeharto menunjukkan bahwa ketaatan pada Tuhan tidak boleh penggerogotan uang negara.
Sepulang dari Makkah, ia menyandang nama Haji Mohammad Soeharto, sebuah pemberian dari Raja Fahd. Namun, lebih dari sekadar nama baru, kepulangan tersebut menandai fase baru kepemimpinannya. Spiritualitas yang ia raih di Tanah Suci dikonversikan menjadi kebijakan yang menyentuh akar rumput umat Islam.
Langkah-langkah strategis pun diambil:
- Sektor Ekonomi: Menyokong berdirinya Bank Muamalat sebagai pionir perbankan syariah di tanah air.
- Sektor Ibadah: Melalui Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila, ratusan masjid berarsitektur khas nusantara dibangun di pelosok provinsi.
- Sektor Sosial: Ia tidak hanya melihat yang besar, tapi juga yang kecil. Para karyawan kepresidenan hingga pedagang kaki lima (tukang bakso dan ketoprak) di sekitar Jalan Cendana diberangkatkan ke Tanah Suci, atas dana pribadi.
Perjalanan Haji Soeharto adalah sebuah narasi tentang keseimbangan. Ia adalah seorang nasionalis yang paham tanggung jawab negara, namun juga seorang mukmin yang sadar akan akhirat. Ia membuktikan bahwa agama tidak perlu dipisahkan dari kepemimpinan, melainkan dijadikan landasan untuk merangkul dan membangun.
Kini, bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu, kita diingatkan kembali bahwa kemuliaan seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa lama ia berkuasa, melainkan dari seberapa bersih ia menjalankan pengabdiannya dan seberapa tulus ia bersujud di hadapan Tuhannya. Soeharto telah menunaikan janjinya—baik kepada Tyar si bocah kelas 3 SD, maupun kepada Penciptanya. (*)
