Jumaria, seorang buruh tani berusia 70 tahun asal Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, wajahnya mendadak banyak menghiasi media sosial. Namanya kini menjadi ikon global dalam program Makkah Route 2026, sebuah inisiatif pemerintah Arab Saudi yang mempermudah perjalanan jemaah haji.
Kisah Jumaria diangkat dalam bentuk film dokumenter singkat. Videonya diunggah melalui akun Instagram Makkah Route. Kisah tersebut adalah catatan tentang disiplin seorang perempuan yang menghabiskan puluhan tahun bergelut dengan lumpur sawah demi bisa bersujud di depan Kakbah.
Keseharian Jumaria sangat sederhana. Sebagai buruh tani penggarap dengan sistem bagi hasil, pendapatannya sangat bergantung pada musim panen. Setiap kali keringatnya terbayar, ia hanya menerima upah sekitar Rp200.000. Namun, di sinilah letak kekuatannya. Separuh untuk bertahan hidup, separuh untuk tabungan haji.
“Setiap menggarap sawah orang, ketika panen itu diberi upah Rp200 ribu. Rp100 ribunya itu saya pakai belanja, Rp100 ribunya lagi saya simpan untuk haji,” kata Jumaria saat menceritakan perjuangannya dalam film dokumenter tersebut.
Uang kertas yang lusuh hasil jerih payahnya itu tidak disimpan di brankas, melainkan di bawah bantal dan sudut-sudut rahasia di rumah sederhananya. Selama belasan tahun, ia konsisten menyisihkan lembar demi lembar hingga akhirnya pada tahun 2010, ia mampu mendaftarkan diri. Setelah penantian panjang selama 15 tahun, pada tahun 2026 ini, menjadi jawaban atas segala doa yang dipanjatkannya.

Kehormatan bagi Sang Pejuang
Penunjukan Jumaria sebagai ikon global bukan tanpa alasan. Tim Makkah Route dari Arab Saudi bahkan terbang langsung ke pelosok Maros untuk mendokumentasikan kehidupannya dalam bentuk film dokumenter tersebut. Jumaria adalah sosok yang tepat merepresentasikan bahwa haji adalah panggilan hati yang tidak dibatasi oleh status ekonomi.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Maros, Ahmad Ihyaddin, mengungkapkan bahwa kekagumannya muncul saat melihat kedisiplinan Jumaria selama manasik. Ia selalu hadir lebih awal.
“Kami melihat kehidupan beliau sangat layak dijadikan ikon. Kondisi rumahnya sederhana dan terpencil, namun semangatnya luar biasa. Inilah profil jemaah yang inspiratif, yang membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang menuju Tanah Suci,” jelas Ahmad Ihyaddin.
Melalui program Makkah Route, jemaah seperti Jumaria mendapatkan perlakuan istimewa berupa layanan fast track. Di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, seluruh proses imigrasi Arab Saudi—mulai dari pemeriksaan paspor, biometrik, hingga bea cukai—diselesaikan sebelum keberangkatan. Artinya, saat Jumaria menginjakkan kaki di Jeddah atau Madinah nanti, ia tidak perlu lagi mengantre panjang. Ia bisa langsung menuju bus dan beristirahat di hotel.
Kisah Jumaria kini telah melintasi batas negara melalui unggahan media sosial resmi Makkah Route. Di usia 70 tahun, ia bukan sebagai penerima santunan, melainkan sebagai seorang pejuang yang membeli tiket surganya dengan tetesan keringat sendiri.
Layanan Makkah Route 2026 adalah puncak dari kemudahan birokrasi, namun bagi Jumaria, kemudahan itu adalah hadiah atas 15 tahun kesabaran menunggu dan puluhan tahun menyisihkan uang seratus ribu di bawah bantal. || chusnun
