Suasana Subuh di Masjid Madinatul Ilmi, Islamic Center Balikpapan, Rabu (6/5/2026), mendadak berbeda. Shaf jemaah tampak lebih rapat dan ramai dari biasanya. Kehadiran sosok istimewa, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Brian Yuliarto, menjadi magnet yang menggerakkan langkah warga menuju rumah Allah.
Di sela agenda resminya, Prof. Brian menyempatkan diri bersujud bersama masyarakat dan didapuk menyampaikan tausiyah bakda Subuh. Dalam pesannya yang lugas, beliau menekankan satu prinsip hidup yang fundamental, yakni berdoalah dan bersandarlah kepada Allah sejak awal langkah, bukan menjadikannya opsi terakhir saat jalan sudah buntu.
Beliau mencontohkan keteguhan Nabi Zakaria yang memohon keturunan demi tegaknya agama, sebuah doa yang dipanjatkan tanpa putus asa dari masa muda hingga usia senja. Namun, satu kisah yang paling menggetarkan jemaah adalah tentang pertemuan legendaris antara Imam Ahmad bin Hanbal dengan seorang penjual roti.
Diusir dari Masjid
Kisah bermula saat Sang Imam besar Ahlus Sunnah, Ahmad bin Hanbal, sedang dalam perjalanan jauh dan tiba di sebuah kota saat larut malam. Sebagai musafir yang tak mengenal siapa pun, beliau memutuskan beristirahat di sebuah masjid.

Namun, ketenangan itu terusik. Marbot masjid datang dengan wajah masam dan mengusir beliau dengan kasar. Meski telah dijelaskan bahwa beliau adalah musafir yang kelelahan, sang marbot tetap bergeming. Bahkan, kaki Imam Ahmad ditarik hingga terseret ke luar pintu masjid. Tanpa amarah dan tanpa sedikit pun memamerkan identitas besarnya, sang Imam hanya diam mengikuti usiran marbot.
Di tengah dinginnya malam, seorang penjual roti yang melihat kejadian itu merasa iba. Ia menawarkan gubuk sederhananya sebagai tempat bernaung. Imam Ahmad menerima tawaran itu. Di sana, beliau menyaksikan pemandangan yang menakjubkan.
Sepanjang malam, sembari mengaduk adonan dan memanggang roti, lisan sang penjual roti tak pernah berhenti melafalkan: “Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.” Setiap gerakannya diselimuti zikir.
Penasaran, Imam Ahmad bertanya, “Sejak kapan engkau melazimkan istighfar ini, wahai paman?”
“Sejak aku muda, puluhan tahun lalu,” jawabnya tenang. “Aku yakin, tidak ada dosa yang tak diampuni dan tidak ada hajat yang tak dikabulkan dengan istighfar,” tambah penjual roti
Imam Ahmad kemudian bertanya tentang doa yang mungkin belum terkabul. Dengan mata berkaca-kaca, penjual roti itu menjawab, “Semua doaku dikabulkan Allah, kecuali satu, aku ingin sekali bertemu Imam Ahmad bin Hanbal. Namun hingga setua ini, Allah belum mempertemukan kami,” jelas penjual roti.
Mendengar itu, tangis Imam Ahmad pecah. Dengan suara bergetar, beliau memegang pundak sang penjual roti dan berkata, “Wahai hamba Allah, akulah Ahmad bin Hanbal! Allah telah menyeretku dengan kakiku dari masjid hingga ke rumahmu, hanya agar hajatmu itu terkabul.”
Seketika, sang penjual roti tersungkur menangis dalam pelukan sang Imam. Ia menyadari, insiden pengusiran di masjid bukanlah sebuah penghinaan, melainkan cara Allah yang paling indah untuk menjawab doa hamba-Nya yang ahli istighfar.
Melalui kisah ini, Menteri Brian Yuliarto mengajak seluruh jemaah untuk merefleksikan kembali kekuatan hubungan dengan Sang Pencipta. Bahwa istighfar bukan sekadar kata, melainkan kunci pembuka pintu-pintu kemustahilan. (*)
