Kurban sering dipahami sebatas ritual tahunan dengan menyembelih hewan pada Hari Raya Iduladha. Padahal, makna kurban jauh lebih luas, yaitu tentang keikhlasan, pengorbanan, dan ketulusan dalam memberi yang terbaik, bahkan ketika kita sendiri dalam keterbatasan, yang semuanya itu untuk sesuatu yang lebih besar.
Dalam realitas sekolah/madrasah, nilai kurban itu hadir setiap hari. Seorang guru tetap menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi meski syahriyah yang diterima sering kali terbatas. Ia datang lebih awal, pulang lebih akhir, menyiapkan pembelajaran, membimbing siswa, dan memberikan waktu-waktu yang sejatinya tidak terhitung dalam honor.
Waktu yang tidak dibayar itulah yang menjadi bentuk kurban untuk dipersembahkan dengan tulus demi kemajuan sekolah/madrasah dan masa depan anak-anak.
Di atas semua itu, seorang kepala sekolah atau madrasah memikul kurban yang lebih sunyi dan kompleks. Ia tidak hanya mengajar, tetapi juga memikirkan arah dan masa depan lembaga. Di saat banyak orang beristirahat, ia masih menyusun konsep, merancang program, mencari solusi atas berbagai keterbatasan, dan menjaga kepercayaan masyarakat.
Ironisnya, tanggung jawab besar tersebut sering tidak sebanding dengan kesejahteraan yang diterima. Bahkan, tidak sedikit kepala sekolah/madrasah yang gajinya jauh lebih rendah dibanding beban yang dipikul.
Namun, mereka tetap bertahan. Bukan semata karena kewajiban, tetapi karena panggilan jiwa dan rasa memiliki. Ada keyakinan bahwa apa yang dilakukan bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari ibadah dan pengabdian.
Di sinilah kurban menemukan maknanya yang sejati. Kurban bukan hanya tentang apa yang tampak, tetapi tentang apa yang rela dilepaskan dalam diam. Tidak ada sorotan, tidak selalu ada apresiasi, tetapi dampaknya nyata melahirkan generasi yang lebih baik.
Kurban bukan hanya tentang apa yang kita sembelih, tetapi tentang apa yang kita relakan. Dan dalam dedikasi guru serta pemikiran seorang kepala madrasah yang tak pernah berhenti demi kemajuan lembaga, kurban itu hidup setiap hari sunyi, namun penuh makna.
Pengorbanan guru dan kepala madrasah baik berupa waktu, tenaga, pikiran, maupun keikhlasan dalam keterbatasan tidak akan pernah sia-sia. Semua itu memiliki makna yang sangat mulia di hadapan Allah Swt. Apa yang mungkin tidak terlihat dan tidak terhargai di dunia, justru menjadi amal besar yang bernilai tinggi di sisi-Nya.
Allah menegaskan dalam Al-Qur’an; “Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 120)
Dalam ayat lain juga disebutkan, “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. Az-Zalzalah: 7)
Bahkan dalam hadis, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai apabila seseorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (sungguh-sungguh dan profesional).” (HR. Al-Baihaqi)
Maka, setiap pengorbanan yang dilakukan dengan ikhlas meski kecil di mata manusia akan bernilai besar di hadapan Allah. Guru dan kepala madrasah yang terus berjuang dalam sunyi, sesungguhnya sedang menanam amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir.
Apa yang hari ini terasa lelah, insyaAllah kelak akan menjadi cahaya. Apa yang hari ini terasa berat, insyaAllah akan menjadi pemberat amal kebaikan di akhirat. (*)
