Ki Hajar Dewantara dan Kyai Ahmad Dahlan: Bangkitkan Hidup Merdeka dari Pembodohan

Ilustrasi: Ki Hajar Dewantara dan KH Ahmad Dahlan.
*) Oleh : Rodli, S.Pd., M.Pd.
Dosen Sastra dan Film Unisda Lamongan. Kordinator Dakwah Kreatif Lembaga Dakwah Komunitas PDM Lamongan, serta ketua PCM Kalitengah.
www.majelistabligh.id -

Bila merefleksikan Pendidikan Nasional, maka nama Ki Hajar Dewantara pasti yang paling muncul. Tapi sesungguhnya sejarah kita punya satu lagi guru bangsa yang jalannya senyap, tapi fondasinya kokoh, Kyai Ahmad Dahlan.

Dialah yang pertama kali mendirikan sekolah formal mempertemukan ilmu agama dengan pengetahuan umum dalam ruang kelas untuk pribumi, yang sebelumnya tidak punya akses pendidikan. Dan kini amal usaha bidang pendidikan, mulai dari Pendidikan Usia Dini sampai Perguruan Tinggi terus maju berkembang di seluruh Nusantara, bahkan sampai manca negara.

Beliau cuma kyai kampung Kauman, Yogyakarta. Tapi dari langgar kecilnya, lahir gagasan pendidikan yang hari ini kita nikmati, yaitu sekolah yang memerdekakan akal tanpa mematikan iman.

Kyai Ahmad Dahlan melawan penjajahan dengan sekolah, bukan senjata. Sebelum tahun 1912, Belanda bikin sekolah untuk mencetak priayi yang nurut. Pesantren kala itu fokus kitab, jauh dari ilmu dunia. Masyarakat terjepit, mau pintar harus ke sekolah Belanda dan copot peci. Mau taat harus di pesantren tapi buta angka.

Kyai Dahlan membaca gelagat ini. Penjajahan paling bahaya bukan di tanah, tapi di kepala. Maka beliau dirikan Sekolah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah pada tahun 1911, isinya bangku kelas, papan tulis, diajari Al-Qur’an sekaligus berhitung, bahasa Belanda, ilmu bumi.

Ini pemberontakan paling halus, melawan Belanda dengan mencetak manusia yang otaknya merdeka, tapi hatinya tetap Islam. Beliau sedang mengembalikan marwah pribumi bukan jongos, tapi khalifah di muka bumi yang sesungguhnya bisa mengelola nasib bangsanya dengan merdeka.

Kyai Dahlan memotivasi para guru agama jangan bodoh terhadap ilmu pengetahuan. Kritik Kyai Dahlan paling pedas justru ke umat sendiri. Beliau marah lihat guru ngaji yang anti ilmu umum. Katanya, “Agama Islam itu menyuruh umatnya pandai. Kalau guru agama bodoh, muridnya akan menyembah kebodohan.”

Dari situ lahir ciri pendidikan yang digagas Kyai Dahlan sampai sekarang, sekolah umum plus agama, sekolah agama plus umum. Tujuannya satu, lahir manusia utuh. Dokter yang hafal Al-Fatihah. Insinyur yang paham zakat. Karena hidup tidak bisa dipotong-potong, ini urusan dunia, itu urusan akhirat.

Itulah marwah yang beliau kembalikan, manusia tidak boleh terbelah, Ilmu dunia tanpa adab jadi serakah, Ilmu agama tanpa nalar jadi jumud, anti kemajuan ilmu pengetahuan. Dan agama seakan hanya mengajarkan bagaimana mati yang husnul khatimah saja, tidak mengajarkan bagaimana hidup yang baik dan bermartabat sebagaimana anjuran Alquran.

Kyai Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa Pendidikan adalah Amal, bukan sekedar proyek untuk mendapatkan materi secara pragmatis. Beliau jalan kaki keliling kampung, ngajak orang tua. “Sekolahkan anakmu. Biar tidak dibodohi terus.”

Kyai Dahlan juga mengingatkan bahwa sekolah pertama-tama adalah tempat menghidupkan manusia, bukan menghidupkan lembaga. Tentu pendidikan juga harus dikelola secara profesional. Kepala Sekolah dan guru adalah karyawan amal usaha yang kebutuhan dasar ekonominya harus terpenuhi, agar mereka bisa mengembangkan dan memajukan peserta didiknya.

Warisan untuk Hardiknas hari Ini yang bisa kita ambil dari Kyai Dahlan dan Ki Hajar Dewantara adalah di 2 Mei ini, pertama, berani merombak seluruh sistem pendidikan yang lebih maju. Beliau tidak anti-Barat, beliau ambil sistem kelas, bangku, kurikulum dari Belanda, lalu diisi ruh Islam. Pendidikan nasional harus berani mengambil teknologi dunia, tapi jangan gadai jati diri.

Kedua, Muliakan guru. Kyai Dahlan memulainya dari dirinya sendiri, mengajar tanpa pamrih. Hari ini, cara memuliakan guru paling konkret adalah gaji layak dan kebebasan mengajar tanpa dibebani persoalan kebutuhan dasar terutama persoalan ekonomi.

Ketiga, Sekolah harus dekat dengan masalah. Kyai Dahlan buka rumah sakit, panti asuhan, karena sekolah tidak boleh di menara gading. Kampus dan sekolah hari ini harus turun, selesaikan stunting, buta huruf, kemiskinan di sekitarnya dulu.

Ki Hajar Dewantara bilang: “Pendidikan tempat persemaian benih kebudayaan.”

Kyai Dahlan mempraktikkan: “Pendidikan tempat persemaian benih keimanan dan kemerdekaan berpikir.”

Keduanya tidak bertentangan. Keduanya sedang menjahit marwah yang sama, bahwa tujuan pendidikan adalah melahirkan manusia yang otaknya jalan, hatinya hidup, dan tangannya mau menolong.

Kalau mau khidmat ke Ki Hajar, jangan lupa ziarah ke pemikiran Kyai Dahlan. Karena bangsa ini dibangun di atas dua kaki, nalar yang merdeka, dan adab yang berakar.

Ki Hajar Dewantara dan Kyai Dahlan adalah dua pahlawan nasional yang melawan penjajah lewat pendidikan yang melahirkan para intelektual religius yang memiliki kesadaran nasionalisme tinggi untuk memerdekakan bangsanya dari praktik pembodohan dan pemiskinan oleh bangsa penjajah pada jamannya.

Masihkah ruh pendidikan itu mengobarkan marwah anti penjajahan dari praktik pembodohan dan pemiskinan pada zaman sekarang?

Selamat Hari Pendidikan Nasional.

 

Tinggalkan Balasan

Search