Berkurban, Melepaskan Rasa Kepemilikan dan Meraih Ketaatan

Berkurban, Melepaskan Rasa Kepemilikan dan Meraih Ketaatan
*) Oleh : Moch Muzaki
TKK IMM Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Iduladha sering kali hadir setiap tahun sebagai rutinitas, seperti gema takbir, penyembelihan hewan qurban, pembagian daging, lalu setelah beberapa hari semuanya kembali seperti biasa. Namun sesungguhnya Idul Adha bukan sekadar peristiwa tahunan, bukan pula hanya tradisi sosial atau seremoni keagamaan. Di dalamnya tersimpan pelajaran besar tentang pergulatan manusia dengan sesuatu yang paling dicintainya.

Ada sebuah kalimat yang sejak masa SMA Kami selalu teringat:

“Setiap kita adalah Ibrahim. Ibrahim punya Ismail.
Ismailmu mungkin hartamu. Ismailmu mungkin jabatanmu. Ismailmu mungkin gelarmu. Ismailmu mungkin anakmu, orang tuamu, suami atau istrimu. Ismailmu mungkin juga egomu, kehormatanmu, rasa ingin diakui, bahkan kenyamanan yang selama ini begitu kau pertahankan.”

Karena hakikatnya “Ismail” bukan hanya seorang anak sebagaimana kisah Nabi Ibrahim, tetapi simbol dari segala sesuatu yang paling kita cintai di dunia.

Menariknya, Allah tidak pernah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membenci Ismail, apalagi benar-benar menghilangkan kasih sayangnya. Allah hanya ingin menguji, “siapa yang lebih dicintai? Sang Pemberi atau pemberian-Nya?”

Allah berfirman:
“Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Di ayat itu terlihat bahwa ujian Ibrahim bukanlah ujian tentang kehilangan, tetapi ujian tentang keterikatan hati.

Karena sesungguhnya yang Allah minta dibunuh bukanlah Ismail, tetapi rasa kepemilikan mutlak terhadap Ismail. Sebab pada akhirnya semuanya hanyalah titipan.

“Dan milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi.”
(QS. Ali Imran: 189)

Jika kita membahas tentang fitrah manusia, yakni mencintai dunia adalah hal yang wajar. Dalam pendekatan fitrah manusia, mencintai sesuatu bukanlah kesalahan. Allah sendiri menjelaskan:

“Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa yang diingini; berupa wanita-wanita, anak-anak, harta…”
(QS. Ali Imran: 14)

Artinya manusia memang diciptakan memiliki kecenderungan mencintai dan memiliki. Kita mencintai keluarga, pekerjaan, kedudukan, penghargaan, bahkan kenyamanan hidup.

Maka masalahnya bukan pada rasa cinta itu sendiri. Masalah muncul ketika cinta berubah menjadi keterikatan yang berlebihan, hingga membuat manusia sulit melepaskan, sulit ikhlas, sulit menerima kehilangan, bahkan marah ketika “miliknya” terusik.

Dalam psikologi, manusia memiliki kecenderungan “sense of ownership”. Psikologi modern mengenal istilah sense of ownership, yaitu kecenderungan seseorang menganggap sesuatu sebagai bagian dari dirinya. Ketika seseorang terlalu melekat pada harta, jabatan, atau pengakuan sosial, maka benda dan status itu tidak lagi dianggap sekadar milik, tetapi dianggap sebagai identitas dirinya.

Akibatnya ketika kehilangan terjadi, yang terluka bukan hanya perasaannya, tetapi harga dirinya.

Maka muncullah rasa marah ketika kepemilikan diusik, rasa takut kehilangan, kecemasan berlebihan, iri hati, kesombongan, bahkan sulit menerima keadaan.

Karena secara psikologis manusia merasa dirinya “berkurang” ketika kehilangan sesuatu yang sudah melekat pada identitasnya.

Padahal ilmu jiwa mengajarkan bahwa kesehatan mental salah satunya ditandai oleh kemampuan seseorang melepaskan keterikatan yang berlebihan. Menerima perubahan, dan menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam kendali dirinya.

Dan Islam telah mengajarkan itu jauh sebelum teori psikologi berkembang:

“Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.”
(QS. Al-Baqarah: 156)

ari Raya Iduladha adalah simbol memperingati Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Hari Raya Iduladha bukan hanya memperingati sejarah penyembelihan hewan qurban.

Ia adalah simbol perjalanan ruhani Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Nabi Ibrahim mengajarkan tentang ketundukan total kepada Allah. Sedangkan Nabi Ismail mengajarkan tentang kepatuhan, keikhlasan, dan pengorbanan.

Maka Iduladha sesungguhnya sedang bertanya kepada kita:

“Apa Ismailmu?”
Apa yang paling sulit kau lepaskan?
Apa yang paling kau pertahankan?
Apa yang ketika terusik membuatmu marah, takut, dan tidak menerima?

Penyembelihan hewan kurban seharusnya menjadi ajang kepedulian sosial dan belajar mendahulukan kepentingan banyak orang

Allah berfirman:
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Maka inti kurban bukanlah darah yang menetes. Yang Allah lihat adalah hati yang berubah. Penyembelihan hewan qurban semestinya menjadi latihan sosial agar manusia keluar dari ego pribadinya.

Belajar bahwa ada orang yang membutuhkan, ada orang. yang jarang makan daging,.ada masyarakat yang harus diperhatikan, ada kepentingan bersama yang lebih besar daripada kepentingan pribadi

Kurban melatih manusia untuk berkata:
“Bukan aku saja yang harus kenyang.”
“Bukan aku saja yang harus bahagia.”
“Bukan aku saja yang harus mendapat bagian.”

Terakhir ,harus ada efek nyata tiap tahun menjadi sosok manusia yang memiliki jiwa berkurban untuk menegakkan ajaran Allah dan memakmurkan masyarakat melalui jalan dakwah dan pembangunan masyarakat

Jika kurban dipahami secara benar, dampaknya tidak berhenti pada hari raya. Ia melahirkan manusia dengan jiwa pengorbanan. Manusia yang rela mengorbankan waktu untuk dakwah. Mengorbankan tenaga untuk pendidikan.

Mengorbankan kenyamanan untuk membantu masyarakat. Mengorbankan ego demi persatuan. Mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan umat.

Karena sesungguhnya membangun masyarakat membutuhkan banyak Ibrahim-Ibrahim baru. Bukan hanya orang yang menyembelih kambing atau sapi setiap tahun, tetapi orang-orang yang rela menyembelih ego, kesombongan, rasa ingin dipuji, dan kepentingan dirinya.

Sebab bisa jadi yang paling sulit dikurbankan bukanlah harta, tetapi “diri kita sendiri.”

Mari kita bertanya kepada diri masing-masing:
Sudahkah kita berqurban?
Apa yang selama ini kita kurbankan?
Atau jangan-jangan selama ini qurban hanya menjadi agenda tahunan, event sosial, ajang kebanggaan, bahkan rebutan kepentingan?

Maka marilah merenung sejenak agar kita berkurban dengan kurban yang benar-benar sejati. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search