Seporsi Adab Sebelum Sepotong Dalil

Seporsi Adab Sebelum Sepotong Dalil
*) Oleh : M. Ainul Yaqin Ahsan, M.Pd
Wakabid. Dakwah PC PM Rungkut
www.majelistabligh.id -

Ada satu hal yang kadang membuat saya heran: kita hidup di zaman ketika dalil begitu mudah ditemukan. Ayat Al-Qur’an ada di genggaman, hadis bisa dicari dalam hitungan detik, kajian agama tersebar di mana-mana. Kita tahu tentang tabayyun. Kita tahu larangan berprasangka buruk. Kita tahu bahaya ghibah. Kita tahu bahwa seorang mukmin diperintahkan menjaga lisannya.

Tetapi anehnya, mengetahui semua itu ternyata tidak otomatis membuat kita menjadi orang yang lebih santun.

Kadang kita tahu dalilnya, tetapi tetap ikut menyebarkan kabar yang belum jelas. Kita tahu larangan berprasangka, tetapi tetap membuat kesimpulan dari satu potongan video. Kita tahu perintah menjaga lisan, tetapi tetap menulis komentar yang menyakitkan karena sedang emosi. Kita tahu bahwa tidak semua yang kita dengar boleh disampaikan, tetapi tetap merasa perlu menjadi orang pertama yang membagikannya.

Barangkali inilah perbedaan antara mengetahui ilmu dan menghidupkan ilmu.

Allah ﷻ telah memberikan prinsip yang sangat jelas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6).

Menariknya, ayat ini tidak hanya berbicara tentang benar atau salahnya sebuah berita. Allah juga menjelaskan akibat dari ketidakhati-hatian: kita bisa menyakiti suatu kaum karena ketidaktahuan, kemudian menyesal atas apa yang kita lakukan.

Lebih jauh lagi, Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.”
(QS. Al-Isra’: 36).

Ayat ini terasa sangat relevan dengan kehidupan digital hari ini. Kita melihat satu video berdurasi 30 detik, lalu merasa mengetahui cerita 30 tahun kehidupan seseorang. Kita membaca satu judul berita, lalu merasa memahami seluruh persoalannya. Kita melihat seseorang melakukan satu kesalahan, lalu merasa tahu seluruh karakter dan masa lalunya. Padahal yang kita lihat mungkin hanya satu halaman dari buku kehidupan seseorang.

Allah bahkan memperingatkan secara khusus:

اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.
(QS. Al-Hujurat: 12).

Dan ayat yang sama melarang mencari-cari kesalahan serta menggunjing.

Di sinilah saya merasa poster tersebut memiliki pesan yang sangat penting: kalau kita belum tahu cerita lengkap seseorang, setidaknya jangan merasa paling tahu. Kalau belum mampu memahami keadaannya, minimal jangan membuat asumsi seenaknya.

Sebab terkadang yang paling menyakitkan bagi seseorang bukan hanya masalah yang sedang ia hadapi, tetapi penilaian orang-orang yang sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang ia perjuangkan.

Tetapi mengapa kita tetap mudah terprovokasi? Ini yang menurut saya perlu kita renungkan. Kita sering mengira bahwa orang yang terprovokasi adalah orang yang tidak punya ilmu. Padahal tidak selalu demikian. Orang yang berilmu pun bisa kehilangan kendali ketika emosinya mengambil alih. Sebab emosi sering kali bergerak lebih cepat daripada ilmu.

 

Tinggalkan Balasan

Search