Saat Hiroshima dan Nagasaki hancur luluh lantak akibat bom atom pada 6 Agustus 1945, Kaisar Hirohito tidak bertanya berapa kekuatan militer atau jumlah tentara yang tersisa. Ia justru mengumpulkan para jenderal dan mengajukan satu pertanyaan mendasar: “Berapa jumlah guru yang masih hidup?”
Sang Kaisar menegaskan bahwa untuk bangkit kembali, rakyat Jepang harus bertumpu pada guru dan pendidikan, bukan lagi kekuatan senjata.
Pertanyaan historis tersebut menegaskan bahwa dalam kondisi kritis sekalipun, peran guru tidak boleh terabaikan. Guru menuntun kita dari ketidaktahuan menuju pemahaman melalui angka, huruf, dan pembacaan tanda-tanda alam. Mereka berjuang tanpa lelah membimbing anak didik meraih mimpi dan masa depan.
Sayangnya, beban tugas dan tanggung jawab besar dari negara sering kali tidak sebanding dengan kesejahteraan yang mereka terima. Kondisi ini memaksa sebagian guru mencari penghasilan tambahan di luar profesinya—menjadi pengemudi ojek daring, guru les privat, buruh tani, hingga pekerjaan kasar lainnya—demi mencukupi kebutuhan dasar keluarga.
Fenomena ini menjadi potret buram pendidikan nasional. Ketika waktu dan energi guru terkuras untuk mengais rezeki di luar sekolah, kinerja mengajar berisiko menurun, yang pada akhirnya berdampak langsung pada penurunan kualitas siswa.
Dampak Rendahnya Kompetensi Guru
Dampak pada Siswa:
- Penurunan prestasi akademik.
- Hilangnya minat dan motivasi belajar.
- Merosotnya karakter dan kedisiplinan.
- Penurunan mutu pendidikan secara keseluruhan di lembaga terkait.
Dampak pada Sekolah:
- Penurunan Reputasi: Nama baik sekolah tercoreng karena lulusan tidak siap bersaing.
- Lingkungan Tidak Kondusif: Kedisiplinan sekolah menjadi kacau dan tidak teratur.
- Kegagalan Visi-Misi: Tujuan utama mencerdaskan kehidupan bangsa tidak tercapai.
Faktor Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan
Rendahnya mutu pendidikan tidak serta-merta menjadi kesalahan guru semata, melainkan akibat akumulasi berbagai faktor multidimensional:
- Ketimpangan akses pendidikan antarwilayah.
- Minimnya jumlah guru berkualitas dan merata.
- Kurikulum yang kurang mengasah daya pikir kritis serta terlalu sering berubah.
- Beban administrasi guru yang terlampau tinggi.
- Kondisi ekonomi keluarga yang lemah dan keterbatasan literasi dasar.
- Rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan.
- Dampak negatif penyalahgunaan gawai (smartphone) yang memicu sikap apatis pada anak.
Langkah Strategis Pemerintah
Untuk mengejar ketertinggalan dan meningkatkan mutu pendidikan nasional, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemenikdasmen) di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Abdul Mu’ti mendorong sejumlah langkah strategis:
- Peningkatan Kompetensi dan Kesejahteraan Guru: Pelatihan berkala, penguatan komunitas belajar antar-pendidik, serta peningkatan kesejahteraan agar guru dapat fokus mengajar.
- Pemerataan Sarana dan Prasarana: Perbaikan fasilitas sekolah di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), penyediaan perpustakaan dan laboratorium, serta penyaluran bantuan operasional secara tepat sasaran.
- Pembaruan Kurikulum: Penerapan metode pembelajaran berbasis proyek dan pemecahan masalah yang melatih berpikir kritis, kreatif, serta relevan dengan dunia kerja.
- Digitalisasi Pendidikan: Perluasan akses internet, pemanfaatan platform pembelajaran interaktif, dan penguatan kecakapan teknologi bagi guru maupun siswa.
Ikhtiar terstruktur ini diharapkan mampu membawa transformasi nyata bagi pendidikan Indonesia menuju bangsa yang maju, kompetitif, dan bermartabat. (*)
