Ada manusia yang telah merdeka dari penjajahan, tetapi belum merdeka dari ambisi.
Ia tidak lagi dirantai oleh manusia, tetapi masih dirantai oleh harta. Tidak lagi ditundukkan oleh penguasa, tetapi ditundukkan oleh keinginan untuk berkuasa. Tidak lagi dijajah oleh bangsa lain, tetapi hidupnya dijajah oleh gengsi, popularitas, pengakuan, dan kepentingan dirinya sendiri.
Rantai yang paling berbahaya adalah rantai yang tidak terlihat.
Ia tidak membelenggu tangan, tetapi mengikat hati.
Manusia mengejar dunia seolah-olah akan memilikinya selamanya. Padahal kematian dapat datang tanpa pemberitahuan. Kita tidak mengetahui di bumi mana kita akan mengembuskan napas terakhir:
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
“Dan tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati.” (QS. Luqman: 34)
Lalu apa yang sebenarnya kita kejar?
Rumah yang akan kita tinggalkan.
Harta yang akan berpindah tangan.
Jabatan yang akan berakhir.
Nama yang perlahan dilupakan.
Tubuh yang akhirnya kembali menjadi tanah.
Allah mengingatkan:
مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ
“Apa yang ada di sisi kalian akan lenyap, sedangkan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An-Nahl: 96)
Maka persoalannya bukan apakah kita memiliki dunia.
Persoalannya: apakah dunia berada di tangan kita, atau justru hati kita berada di tangan dunia?
Dunia boleh berada di tangan seorang Muslim. Bahkan dunia harus dikelola, dibangun, dimakmurkan, dan digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan.
Tetapi dunia tidak boleh menjadi kiblat ambisi.
Harta adalah modal, bukan tujuan.
Jabatan adalah amanah, bukan kemuliaan.
Ilmu adalah cahaya, bukan alat kesombongan.
Kekuasaan adalah tanggung jawab, bukan mahkota ego.
Dunia adalah kendaraan. Jangan sampai kendaraan berubah menjadi tujuan perjalanan.
Sebab seorang musafir yang terlalu mencintai kendaraannya akan lupa ke mana ia hendak pergi.
Demikian pula manusia.
Ketika dunia menjadi tujuan, manusia akan mengorbankan hidup untuk sesuatu yang pada akhirnya akan ditinggalkannya.
Tetapi ketika Allah menjadi tujuan, dunia menemukan tempatnya.
Kita bekerja dengan dunia, tetapi hati tidak diperbudak dunia.
Kita memiliki dunia, tetapi tidak menggantungkan harga diri kepadanya.
Kita membangun dunia, tetapi tidak kehilangan akhirat karenanya.
Inilah kemerdekaan yang sesungguhnya: bukan ketika manusia tidak memiliki apa-apa, tetapi ketika tidak ada apa pun selain Allah yang memiliki hatinya.
Karena kita tidak tahu kapan perjalanan akan berakhir, jangan habiskan seluruh perjalanan untuk mengumpulkan sesuatu yang pasti kita tinggalkan.
Gunakan dunia sebelum dunia menggunakan kita.
Miliki dunia sebelum dunia memiliki hati kita.
Jadikan dunia sebagai bekal, bukan sebagai Tuhan tujuan.
