Menjaga Akhlak: Penentu Nasib Seorang Muslim di Dunia dan Akhirat

Menjaga Akhlak: Penentu Seorang Muslim di Dunia dan Akhirat
www.majelistabligh.id -

Kedalaman pemahaman agama dan keluhuran akhlak bukan sekadar pelengkap dalam kehidupan seorang muslim, melainkan pilar utama yang menentukan nasib seseorang, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Pesan mendalam ini disampaikan oleh Dr. Sholihin Fanani, M.PSDM., saat menyampaikan khotbah Jumat di Masjid Al Badar, kompleks Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Surabaya, Jumat (6/11/2026).

Dalam khotbahnya, Sholihin menekankan pentingnya bagi setiap muslim untuk terus mendalami empat kelompok utama ajaran Islam: tauhid, ibadah, akhlak, dan muamalah duniawiyah. Keempat aspek ini harus dijaga secara seimbang dan diiringi dengan konsistensi dalam beramal saleh.

“Menjadi umat Rasulullah saw tidak cukup hanya dengan menyanjung beliau. Menjadi umat sejati berarti harus sungguh-sungguh mengikuti ajaran serta meneladani akhlaknya agar kita tergolong sebagai umat terbaik dan mendapatkan syafaat beliau,” ujar Sholihin di hadapan ratusan jamaah.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa nilai tertinggi seorang manusia terletak pada kualitas akhlaknya. Berbeda dengan moral dan etika yang berfokus pada aturan hidup bermasyarakat, akhlak memiliki dimensi spiritual yang jauh lebih mendalam karena dinilai langsung oleh Allah Swt.

“Nilai tertinggi seseorang ada pada akhlaknya, dan puncak dari akhlak tertinggi adalah ketika kita mampu menjaga hati orang lain,” kata Solihin Fanani.

Mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali, Solihin menjelaskan empat faktor utama yang memengaruhi pembentukan akhlak manusia:

  1. Agama: Semakin mendalam pemahaman tauhid, ibadah, akhlak, dan muamalah seseorang, semakin mulia pula perilakunya. Allah Swt akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.
  2. Ilmu: Tingginya ilmu membuat seseorang hidup lebih bermanfaat bagi orang lain serta senantiasa berpikir positif.
  3. Lingkungan: Lingkungan keluarga memegang peran paling dominan sebesar 60 persen—dengan faktor ibu sebagai pondasi utama—disusul lingkungan pendidikan sebesar 20 persen, serta pergaulan dan masyarakat sebesar 20 persen.

Pembiasaan pada masa remaja awal menjadi fase krusial. Keberhasilan seseorang dalam membina diri di usia ini sangat menentukan keberhasilannya saat dewasa kelak.

Mengakhiri khotbahnya, Sholihin mengingatkan bagaimana akhlak secara langsung membentuk alur nasib dan takdir seseorang. Ucapan yang sering dilontarkan akan menjelma menjadi tindakan, tindakan yang diulang akan menjadi kebiasaan, kebiasaan membentuk karakter, dan karakter itulah yang pada akhirnya menentukan masa depan seseorang. Oleh karena itu, memperbaiki akhlak adalah kewajiban yang harus diikhtiarkan setiap hari. || chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search