Bukan Salat Id, Tapi Mengapa Salat di Lapangan

Bukan Salat Id, Tapi Mengapa Salat di Lapangan
*) Oleh : Agus Rosid
Jamaah Masjid Baitul Fadli Gunung Anyar Tambak Surabaya.
www.majelistabligh.id -

Sejumlah jemaah berdatangan ke lapangan terbuka. Pakaian mereka rapi dengan tangan kanan menenteng sajadah. Seorang warga yang melintas pun heran. Ia sempat bertanya ke salah seorang jemaah, “Hari ini kan bukan hari raya. Mengapa ada salat berjamaah di lapangan?”

Bagi sebagian orang, pertanyaan seperti itu sangat wajar. Bisa jadi sepanjang hidupnya, baru kali ini ia melihat salat berjamaah di lapangan di luar Salat Id.

Memang, salat ini tidak dilakukan secara rutin karena hukumnya sunnah. Nabi SAW hanya melakukannya saat terjadi kemarau panjang. Inilah yang dalam fikih ibadah dikenal dengan Salat Istisqa, salat untuk meminta hujan.

Dalam sebuah hadis sahih diriwayatkan, Nabi SAW pernah keluar ke tanah lapang. Beliau kemudian menghadap kiblat, membalikkan selendangnya, dan berdoa dengan penuh kerendahan diri memohon hujan.

Pada momen itu, Nabi SAW mengangkat kedua tangannya setinggi-tingginya hingga terlihat putih ketiak beliau. Sesuatu yang tidak pernah beliau lakukan sedemikian tinggi dalam doa-doa selain pada Salat Istisqa.

Sejatinya, ini adalah bukti kesungguhan beliau dalam mengetuk pintu langit, agar Yang Maha Kuasa berkenan mencurahkan rahmat-Nya ke hamparan bumi yang sedang dirundung kekeringan.

Tindakan mengetuk pintu langit dengan bermunajat agar diturunkan rahmat berupa hujan adalah cara kita mengakui kemahakuasaan Allah SWT atas segala hal yang terjadi di muka bumi ini.

Ini sejalan dengan penegasan Allah SWT dalam QS. Nuh ayat 10-11:

“Maka aku berkata (kepada mereka): Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.”

Pesan yang disampaikan dalam ayat ini sangat jelas, hujan adalah hak prerogatif Tuhan. Manusia bisa saja menyusun rencana dan membuat aksi nyata dengan memanfaatkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), tetapi selama tidak ada kehendak dari Sang Penguasa semesta, rencana itu tetap akan berujung sia-sia.

Artinya, ikhtiar dan doa perlu berjalan beriringan. Tanpa ikhtiar, doa akan kehilangan makna. Sebaliknya, tanpa doa, ikhtiar hanya akan lepas kendali dan kehilangan arah.

Maka dari itu, Salat Istisqa ini bukanlah wujud kepasrahan dalam arti menyerah atas kondisi alam yang tidak baik-baik saja, bukan pula pelarian atas ketidakmampuan kita menghadapi cuaca ekstrem. Sebaliknya, ia adalah bagian dari manifestasi keimanan seorang hamba dalam menghadapi ujian: sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya segala urusan dikembalikan.

Lebih dari itu, salat ini adalah bentuk muhasabah kolektif. Jangan-jangan kemarau yang memanjang ini adalah cara Allah SWT menegur kita yang selama ini kurang menjaga amanah air dan alam

Bayangkan, kondisi cuaca ekstrem yang melanda negeri kita dalam beberapa bulan terakhir telah memicu musim kemarau berkepanjangan yang menimbulkan masalah di hampir semua wilayah. Selain harus menghadapi krisis air bersih, juga dihadapkan pada ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Apalagi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini bahwa musim kemarau tahun 2026 diprakirakan berlangsung lebih panjang, lebih kering, dan lebih ekstrem dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Akibat kondisi tersebut memicu meluasnya krisis air bersih di sejumlah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, serta mengancam petani dengan risiko gagal panen akibat kekurangan pasokan irigasi. Tak heran, sebagian pemerintah daerah akhirnya harus menetapkan status tanggap darurat kekeringan di wilayahnya.

Dalam kondisi seperti inilah, Salat Istisqa menjadi relevan. Ia mengajarkan kita untuk tidak hanya sibuk menyalahkan cuaca atau terus menerus mengeluh tanpa tujuan.

Karena itu, Nabi SAW mengajarkan Salat Istisqa dilakukan dengan hati yang tunduk, memperbanyak istighfar, dan mengajak serta anak-anak, orang tua renta, bahkan hewan ternak. Semua makhluk diajak bersama-sama merendahkan diri di hadapan Sang Pemberi Hujan.

Kita tidak tahu apakah setelah menunaikan Salat Istisqa ini hujan akan langsung diturunkan dari langit, ataukah kita justru masih harus menunggu jawaban permohonan kita. Bagaimana pun hasilnya, kita yakin bahwa di dalam musibah itu Allah sebenarnya sedang menguji keimanan kita, menghapus dosa-dosa kita, dan mengajarkan kembali untuk berhemat atas limpahan anugerah air yang selama ini sering kita biarkan terbuang percuma.

Dalam Salat Istisqa ada hal penting yang bisa kita raih: bumi bisa saja tandus akibat kekeringan, tetapi hati kita jangan pernah lalai dari keyakinan bahwa pertolongan Allah itu sangat dekat.

Kita angkat tangan ke langit bukan karena langit yang memberi hujan, melainkan karena di arah itulah Nabi SAW mengajarkan kita untuk merendahkan diri dan memohon di hadapan Sang Pemilik Semesta.

Biarlah musim kemarau panjang ini berjalan dengan takdirnya, tugas kita adalah terus menyempurnakan ikhtiar di bumi sambil tak henti mengetuk pintu langit dengan doa.

Akhirnya, di tanah lapang yang terbuka ini kita lebih merasakan betapa berharganya setitik air, nikmat yang selama ini sering kita lalaikan untuk kita syukuri. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search