Hati manusia diciptakan untuk mencintai. Kita mencintai orang tua, pasangan, anak, sahabat, pekerjaan, bahkan harta yang kita perjuangkan. Cinta adalah fitrah. Namun, fitrah itu akan berubah menjadi petaka ketika cinta kepada makhluk melampaui cinta kepada Allah SWT. Saat itulah hati menjadi rapuh, mudah kecewa, dan sulit menerima kenyataan ketika kehilangan datang.
Islam tidak mengajarkan untuk mematikan rasa cinta, tetapi mengajarkan agar cinta berada dalam kendali iman. Sebab, hanya Allah SWT yang layak menjadi tujuan cinta yang paling tinggi.
Allah SWT berfirman:
«وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ
“Di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan. Mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 165)»
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran keimanan seseorang terlihat dari kepada siapa cinta terbesar di dalam hatinya diberikan.
Nabi Ya’qub AS sangat mencintai putranya, Nabi Yusuf AS. Bahkan setelah berpisah bertahun-tahun, beliau menangis hingga penglihatannya memutih. Allah berfirman:
«وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
“Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).”
(QS. Yusuf [12]: 84)»
Namun, yang luar biasa adalah Nabi Ya’qub tidak pernah menjadikan cintanya kepada Yusuf mengalahkan tawakal kepada Allah. Di tengah kesedihan yang mendalam, beliau berkata:
«إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ
“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”
(QS. Yusuf [12]: 86)»
Inilah pelajaran besar. Nabi Ya’qub menangis, bersedih, dan merindukan putranya. Itu adalah fitrah manusia. Namun beliau tidak putus asa, tidak menyalahkan Allah, dan tidak kehilangan keimanan. Beliau mengajarkan bahwa mencintai manusia adalah hal yang wajar, tetapi tempat bergantung tetap hanya kepada Allah.
Kisah Nabi Ibrahim AS menunjukkan puncak kecintaan kepada Allah. Setelah sekian lama menanti keturunan, Allah menganugerahkan putra yang sangat dicintainya, Nabi Ismail AS. Namun ketika Ismail mulai tumbuh dan menjadi penyejuk hati, Allah menguji Ibrahim dengan perintah yang sangat berat: menyembelih putranya sendiri.
Allah SWT berfirman:
«فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
“Ketika anak itu telah sampai pada usia sanggup berusaha bersama Ibrahim, dia berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.'”
(QS. Ash-Shaffat [37]: 102)»
Ismail menjawab dengan penuh keimanan:
«يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat [37]: 102)»
Nabi Ibrahim tidak kehilangan rasa cinta kepada anaknya. Justru karena sangat mencintainya, ujian itu terasa begitu berat. Namun beliau membuktikan bahwa cinta kepada Allah berada di atas segalanya. Karena ketulusannya, Allah mengganti Ismail dengan seekor sembelihan yang besar dan mengabadikan peristiwa itu sebagai syariat kurban hingga hari ini.
Hari ini banyak orang yang terlalu mencintai pasangan hingga hidupnya hancur ketika ditinggalkan. Ada yang terlalu mencintai jabatan sehingga rela mengorbankan kejujuran. Ada yang terlalu mencintai harta sampai lupa halal dan haram. Bahkan ada yang kehilangan arah hidup karena sesuatu yang dicintainya hilang.
Padahal Allah telah mengingatkan:
«كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan yang tetap kekal hanyalah Zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”
(QS. Ar-Rahman [55]: 26–27)»
Karena itu, jangan letakkan seluruh harapan kepada sesuatu yang pasti akan pergi.
Rasulullah bersabda:
«”Cintailah orang yang engkau cintai sewajarnya, karena boleh jadi suatu hari nanti ia menjadi orang yang engkau benci. Dan bencilah orang yang engkau benci sewajarnya, karena boleh jadi suatu hari nanti ia menjadi orang yang engkau cintai.”
(HR. At-Tirmidzi No. 1997)»
Hadis ini mengajarkan keseimbangan dalam perasaan. Jangan sampai cinta membuat kita buta terhadap kebenaran, dan jangan sampai kebencian membuat kita berlaku zalim.
Mencintai adalah fitrah. Namun, menjadikan makhluk sebagai pusat kehidupan adalah awal dari banyak luka. Belajarlah dari Nabi Ya’qub AS yang tetap bertawakal di tengah kehilangan. Belajarlah dari Nabi Ibrahim AS yang menempatkan cinta kepada Allah di atas cinta kepada anaknya.
Jika Allah menjadi cinta yang paling utama, maka setiap kehilangan akan melahirkan kesabaran, setiap ujian akan melahirkan keteguhan, dan setiap perpisahan akan semakin mendekatkan kita kepada-Nya.
Cintailah orang tua, pasangan, anak, sahabat, pekerjaan, dan dunia dengan penuh kasih sayang. Namun cintailah mereka sewajarnya. Sebab ketika cinta kepada makhluk melebihi cinta kepada Allah, hati akan mudah hancur. Tetapi ketika Allah menjadi cinta yang paling utama, tidak ada kehilangan yang mampu meruntuhkan keimanan.(*)
