Perdebatan mengenai apakah devisa yang dihasilkan industri rokok lebih besar daripada biaya kesehatan yang ditimbulkannya adalah salah satu topik ekonomi kesehatan yang paling kompleks di Indonesia.
Untuk memahami perbandingannya secara objektif, kita perlu melihat gambaran besarnya dari dua sisi yang berbeda.
1. Sisi Penerimaan: Devisa dan Cukai
Negara memang mendapatkan pemasukan yang signifikan dari industri tembakau.
Pendapatan ini utamanya datang dari “Cukai Hasil Tembakau (CHT)” yang dipungut dari setiap batang rokok yang diproduksi.
Penyumbang APBN:
Cukai rokok merupakan salah satu pos penerimaan negara terbesar dalam APBN.
Angkanya terus meningkat setiap tahun seiring dengan penyesuaian tarif cukai.
Multiplier Effect:
Industri ini melibatkan rantai panjang mulai dari petani tembakau, buruh pabrik, distributor, hingga pedagang kecil.
Oleh karena itu, industri rokok sering dianggap sebagai tulang punggung bagi banyak lapangan kerja dan mata pencaharian.
2. Sisi Pengeluaran: Beban Kesehatan dan Ekonomi
Di sisi lain, terdapat biaya eksplisit dan implisit yang muncul akibat konsumsi rokok, yang sering kali disebut sebagai “biaya eksternalitas”.
Klaim Jaminan Kesehatan Nasional (JKN):
Banyak biaya pengobatan penyakit tidak menular (seperti jantung, kanker, dan stroke) yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan berasal dari pasien dengan riwayat merokok.
Besarnya klaim ini sering kali menjadi beban bagi keberlangsungan dana jaminan sosial.
Biaya Produktivitas yang Hilang:
Selain biaya pengobatan langsung, negara kehilangan potensi ekonomi yang sangat besar akibat “premature death” (kematian dini) dan kesakitan (morbiditas) yang membuat usia produktif berkurang.
Seseorang yang sakit karena rokok tidak bisa bekerja, sehingga produktivitas nasional menurun.
Mana yang Lebih Besar?
Jika kita hanya membandingkan “angka nominal cukai” dengan “biaya pengobatan langsung di rumah sakit”, sering kali penerimaan cukai terlihat lebih besar atau setara.
Namun, banyak riset ekonomi kesehatan menunjukkan bahwa “kerugian total ekonomi (ekonomi makro) jauh lebih besar daripada pendapatan cukai.”
Mengapa demikian?
1. “Biaya Tersembunyi:”
Biaya pengobatan hanyalah puncak gunung es.
Kerugian yang sebenarnya jauh lebih besar mencakup hilangnya produktivitas, biaya perawatan jangka panjang, dan beban bagi keluarga yang ditinggalkan karena kematian dini.
2. Kualitas Sumber
Daya Manusia: Dampak jangka panjang rokok menghambat tercapainya bonus demografi. Jika generasi muda banyak yang terhambat kesehatan dan produktivitasnya, daya saing bangsa di masa depan justru melemah.
Kesimpulan
Secara hitungan fiskal jangka pendek, cukai rokok adalah “napas” bagi pemasukan negara.
Namun, jika dilihat dari kacamata “ekonomi kesehatan dan produktivitas jangka panjang”, kerugian yang ditanggung negara—baik secara langsung melalui biaya medis maupun secara tidak langsung melalui hilangnya produktivitas—jauh melampaui apa yang diterima dari cukai tersebut.
Singkatnya, negara mungkin mendapatkan uang tunai dari cukai hari ini, tetapi harus membayar harga yang lebih mahal dalam bentuk beban kesehatan publik dan hilangnya modal manusia di masa depan. (*)
