Kehidupan bermasyarakat bukan sekadar ruang berinteraksi, melainkan medan utama untuk mengaktualisasikan tauhid sekaligus menguji kualitas ketakwaan seorang muslim. Di tengah keberagaman, cara seseorang mengelola perbedaan dan memberikan manfaat bagi sesama menjadi bukti nyata pelaksanaan tugas kekhalifahan di muka bumi.
Pesan tersebut ditegaskan oleh Wakil Ketua Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Sukaca, dalam kajian Gerakan Subuh Mengaji, Kamis (3/9/2026).
Dalam pemaparannya, Agus mengulas pokok pikiran kedua Mukadimah Anggaran Dasar (MAD) Muhammadiyah yang menegaskan bahwa hakikat hidup manusia adalah hidup bermasyarakat. MAD memuat enam pokok pikiran yang menjadi pondasi ideologi organisasi, yakni tauhid, kehidupan bermasyarakat, Islam sebagai landasan hidup, kewajiban menegakkan ajaran Islam, ittiba kepada Nabi Muhammad saw, serta berjuang melalui organisasi.
“Tauhid itu ruang aktualisasinya ada di masyarakat,” ujar Agus.
Dari Kesalehan Individu Menuju Kesalehan Sosial
Agus mengingatkan agar pemahaman Islam tidak bergeser menjadi sikap yang individualistis. Setiap muslim perlu mengubah cara pandang dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial, dari yang semula berfokus pada “apa yang bisa didapat” menjadi “apa yang dapat diberikan.”
“Jika kita berkomitmen menerapkan nilai-nilai Islami, fokus utamanya adalah kontribusi apa yang bisa kita berikan kepada masyarakat,” tegasnya.
Perubahan orientasi ini akan mendorong setiap individu untuk aktif menyelesaikan persoalan bersama. Kehadiran seorang muslim di tengah masyarakat idealnya membawa maslahat, sejalan dengan pesan Rasulullah saw bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Selain itu, ia mengimbau pentingnya menggeser fokus dari sekadar menuntut hak menuju kesadaran menunaikan kewajiban. Perubahan pola pikir ini dinilai mampu menciptakan kehidupan sosial yang lebih harmonis.
Dalam kerangka berpikir Muhammadiyah, kesalehan individu yang dibangun lewat ibadah ritual harus melahirkan kesalehan sosial. Kesalehan pribadi hanyalah titik awal untuk mewujudkan masyarakat yang saleh—sejalan dengan cita-cita besar Muhammadiyah, yakni terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Nilai-nilai seperti keadilan, kejujuran, persaudaraan, gotong royong, dan tolong-menolong harus mengakar kuat dalam diri setiap warga Muhammadiyah. Nilai-nilai tersebut perlu dibentuk menjadi akhlak keseharian melalui pembiasaan yang konsisten.
“Nilai-nilai ini seharusnya sudah menjadi DNA-nya warga Muhammadiyah,” kata Agus. (*/tim)
