Masjid Harmoni Muhammadiyah: Diplomasi Keagamaan Indonesia untuk Perdamaian Dunia

Masjid Harmoni Muhammadiyah: Diplomasi Keagamaan Indonesia untuk Perdamaian Dunia
*) Oleh : Prof. Triyo Supriyatno
Wakil Ketua PDM Kota Malang dan Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
www.majelistabligh.id -

“Jika perang lahir dari runtuhnya kepercayaan, maka perdamaian harus dibangun melalui ruang-ruang yang menumbuhkan kepercayaan.”

Di tengah dunia yang terus diguncang perang, konflik identitas, krisis kemanusiaan, dan meningkatnya politik kebencian, masyarakat internasional kembali mempertanyakan efektivitas diplomasi konvensional. Berbagai forum internasional telah digelar, perjanjian damai berkali-kali ditandatangani, namun peperangan tetap terjadi. Dari Timur Tengah hingga Eropa Timur, dari Afrika hingga Asia, perdamaian masih menjadi cita-cita yang belum sepenuhnya terwujud.

Situasi ini mengingatkan kita bahwa perdamaian tidak dapat dibangun hanya melalui diplomasi politik dan kekuatan ekonomi. Perdamaian membutuhkan fondasi moral, spiritual, dan kemanusiaan. Di sinilah religious diplomacy atau diplomasi keagamaan menemukan relevansinya.

Agama memiliki kekuatan yang sering kali tidak dimiliki oleh negara, yaitu kemampuan menyentuh hati manusia. Ketika politik berbicara tentang kepentingan, agama berbicara tentang nurani. Ketika diplomasi formal berhenti di ruang negosiasi, diplomasi keagamaan bekerja melalui keteladanan, pelayanan, dan dialog antarmanusia.

Dalam perspektif Islam, salah satu institusi yang memiliki potensi besar menjalankan misi tersebut adalah masjid.
Sayangnya, di banyak tempat masjid masih dipahami sebatas ruang ritual. Padahal sejak masa Rasulullah saw., masjid adalah pusat peradaban. Masjid Nabawi bukan hanya tempat salat, tetapi juga tempat pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, penyelesaian konflik, bahkan diplomasi. Dari masjid itulah lahir masyarakat Madinah yang mampu hidup berdampingan dalam keberagaman melalui Piagam Madinah, salah satu dokumen politik paling progresif pada zamannya.Karena itu, sudah saatnya fungsi historis tersebut dihidupkan kembali melalui gagasan Masjid Harmony.

Masjid Harmony bukan sekadar bangunan yang indah atau megah. Ia adalah paradigma baru yang memandang masjid sebagai pusat pembangunan manusia. Masjid menjadi ruang ibadah sekaligus ruang dialog, pusat pendidikan, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, pelestarian lingkungan, hingga diplomasi kemanusiaan.

Al-Qur’an telah memberikan fondasi yang sangat kuat bagi paradigma tersebut.
Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Ayat ini mengajarkan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kehendak Allah yang harus dikelola melalui ta’aruf, saling mengenal, saling memahami, dan saling menghormati. Inilah inti dari diplomasi keagamaan.

Dalam konteks global, diplomasi keagamaan tidak berusaha menyeragamkan keyakinan, melainkan membangun kerja sama atas dasar nilai-nilai universal seperti kasih sayang, keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian.

Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi pelopor diplomasi tersebut. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki ribuan pesantren, perguruan tinggi Islam, organisasi keagamaan, dan lebih dari delapan ratus ribu masjid yang tersebar hingga pelosok desa.

Jika seluruh potensi itu diarahkan menjadi pusat pelayanan masyarakat dan dialog kemanusiaan, Indonesia akan memiliki kekuatan soft power yang luar biasa dalam membangun perdamaian dunia.
Contoh nyata dapat kita temukan pada gerakan masjid-masjid Muhammadiyah.

Tinggalkan Balasan

Search