Setiap manusia di dunia ini menjalani kehidupan dengan warna yang berbeda-beda. Ada yang dilahirkan di dalam kemewahan, ada yang meniti hari dalam kesederhanaan. Ada yang diagungkan karena jabatan dan tahta, ada pula yang lalu lalang tanpa pernah dikenal nama dan wajahnya. Dunia memang panggung yang riuh dengan status sosial, gelar, kehormatan, dan kepemilikan.
Namun, di balik hiruk-pikuk kehidupan dunia, ada satu kenyataan mutlak yang menanti setiap jiwa. Sebuah tempat persinggahan yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun: alam kubur.
Tempat Persinggahan Tanpa Kasta
Jika di dunia ini raja disambut dengan karpet merah dan rakyat biasa masuk melalui pintu belakang, maka kubur tidak mengenal protokol semacam itu. Rasulullah SAW. mengingatkan kita dalam sebuah hadis:
“Ingatlah pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi)
Ketika nafas terakhir berembus dan jasad diturunkan ke liang lahad, semua atribut dunia serta-merta ditanggalkan. Kubur adalah tempat yang sangat adil dan tidak membeda-bedakan tamunya:
• Tanpa Pakaian Mewah: Tidak ada kain sutra atau jas mahal. Semua tamu kubur dibungkus dengan kain kafan putih yang polos dan sederhana.
• Tanpa Gelar dan Jabatan: Penguasa, pengusaha, cendekiawan, hingga kaum dhuafa menempati ukuran liang yang sama—tanpa hiasan, tanpa pendingin ruang, dan tanpa pengawal.
• Tanpa Kekayaan: Harta berlimpah di rekening bank, rumah megah, atau kendaraan mewah ditinggalkan di atas tanah. Tidak ada satu pun yang ikut masuk ke dalam tanah.
Di hadapan tanah yang menyelimuti, kita semua diperlakukan sama persis.
Bekal yang Benar-Benar Diterima
Jika materi, kedudukan, dan wajah rupawan tidak berharga di dalam kubur, lantas apa yang menemani kita di sana?
Rasulullah SAW bersabda:
“Yang mengikuti mayit itu ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Maka yang dua kembali dan yang satu tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kubur memang tidak peduli siapa Anda di dunia, tetapi ia sangat peduli pada apa yang Anda bawa.
Tanah yang gelap itu akan menjadi terang benderang bagi jiwa yang menghiasi hidupnya dengan tauhid, salat yang terjaga, sedekah yang ikhlas, dan akhlak yang mulia. Sebaliknya, ruang yang sempit itu akan terasa menghimpit bagi jiwa yang menghabiskan waktunya untuk menyombongkan diri, menzalimi sesama, dan melupakan Sang Pencipta
Saatnya Berbenah Sebelum Tamasya Terakhir
Mengetahui bahwa kubur tidak membeda-bedakan tamunya seharusnya tidak membuat kita patah semangat atau putus asa. Justru, ini adalah pengingat (tazkirah) yang sangat indah untuk meluruskan kembali arah hidup kita:
1. Rendahkan Hati: Tidak ada yang layak disombongkan di dunia ini, sebab tempat kembali kita sama-sama tanah.
2. Perbaiki Niat dan Amal: Fokuslah mengumpulkan “mata uang” yang berlaku di alam barzahir, yaitu amal saleh, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan.
3. Lebih Peduli pada Sesama: Jangan lagi menilai manusia dari strata sosialnya. Di mata Allah, yang paling mulia hanyalah yang paling bertakwa.
Hari ini kita mungkin masih bisa memilih tempat tinggal, pakaian yang dikenakan, dan dengan siapa kita bertemu. Namun kelak, akan tiba saatnya kita menjadi “tamu” di dalam bumi tanpa bisa memilih atau menawar.
Sebelum tanah menutup pandangan dan pintu taubat terputus, marilah kita persiapkan bekal terbaik. Semoga Allah SWT menjadikan kubur kita kelak sebagai salah satu taman dari taman-taman surga, bukan jurang dari jurang-jurang neraka. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
