Dikukuhkan Jadi Guru Besar, Prof. Mundakir Tekankan Psikososial Pasien

Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep. saat menyampaikan pidato ilmiah sebagai guru besar UMSURA. (sc)
www.majelistabligh.id -

Dua guru besar Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) dikukuhkan dalam Rapat Senat Terbuka UMSURA yang berlangsung di Gedung At-Tauhid Tower Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Kamis (30/4/2026). Kedua guru besar tersebut adalah Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep dan Prof. Dr. Dra. Lina Listiana, M.Kes.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Mundakir mengangkat judul Bridging Psychosocial Gaps in Nursing: Knowledge Translation untuk Indonesia di Era Disrupsi”. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Mundakir menyatakan bahwa pidato ini berangkat dari kegelisahan dimana di tengah kemajuan teknologi kesehatan, digitaliasi layanan dan kemajuan keperawatan, ternyata masih ada kesenjangan antara kebutuhan psikososial pasien dan praktik yang mereka terima.

“Teknologi hanyalah alat, ia tidak akan pernah memiliki empati. Di tengah digitalisasi layanan yang serba cepat, kita justru melihat keterasingan pasien semakin memburuk. Keperawatan harus kembali merawat pasien secara utuh, bukan sekadar fisiknya saja,” tegas Prof. Mundakir.

Darurat Mental

Data yang dipaparkan Prof. Mundakir sungguh mengejutkan. Di Indonesia, sebanyak 46 juta remaja menghadapi tantangan kesehatan yang kompleks, dengan 5,5% remaja usia 10-17 tahun di antaranya mengalami gangguan mental serius. Lebih memilukan lagi, ia mengungkap adanya ‘Jurang Kesunyian’ yang kronis. Sebanyak 61% remaja yang mengalami depresi memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup. Ironisnya, hanya sekitar 10,4% yang benar-benar mencari bantuan medis.

Fenomena ini sejalan dengan laporan global WHO yang menyatakan bahwa 1 dari 7 penduduk dunia hidup dengan gangguan mental, dan 1 dari 6 anak muda terjebak dalam kesepian kronis. Prof. Mundakir menilai, sistem kesehatan saat ini sedang mengalami paradoks besar. Semakin canggih alat yang digunakan, semakin jauh jarak emosional antara tenaga kesehatan dan pasien.

“Kita sedang menghadapi krisis kemanusiaan di ruang-ruang perawatan. Saat perawat lebih sibuk menatap layar monitor daripada menatap mata pasien, di situlah asuhan keperawatan kehilangan jiwanya,” ujarnya.

Empat Tekanan Sistemik

Dalam analisisnya, Prof. Mundakir menyebutkan empat tekanan utama yang kini mengancam fondasi keperawatan:

  1. Kerentanan Internal (Burnout): Tingkat stres kerja perawat mencapai 50,9% dengan prevalensi burnout hingga 37,5%. Perawat yang lelah secara mental mustahil bisa memberikan perawatan mental yang prima.
  2. Kesenjangan Digital: Teknologi yang terlalu berorientasi pada efisiensi teknis seringkali mengabaikan aspek afektif pasien.
  3. Misinformasi Media Sosial: Arus informasi yang tidak tervalidasi mengganggu pemahaman masyarakat akan kesehatan mental.
  4. Fragmentasi Sistem: Belum terintegrasinya praktik asuhan holistik secara nyata dalam sistem pelayanan kesehatan.

Sebagai solusi, ia menawarkan konsep Knowledge Translation-Psiko. Baginya, psikososial di Indonesia harus berdiri tegak di atas tiga pilar utama: Budaya, Keluarga, dan Spiritual.

Ia menekankan bahwa Knowledge Translation harus menjadi sebuah gerakan masif. Bukan sekadar wacana di atas kertas, melainkan gerakan akademik untuk memperbaharui kurikulum, gerakan praktik profesional untuk mengubah standar pelayanan, dan gerakan moral untuk mengembalikan martabat pasien.

Knowledge translation adalah gerakan moral untuk memastikan pelayanan kesehatan yang manusiawi, kontekstual, dan berkeadaban. Perawat adalah garda terdepan yang harus menjembatani jurang kesunyian pasien,” tambahnya.

Sidang pengukuhan ini menjadi peringatan bagi dunia kesehatan Indonesia. Di era disrupsi, keahlian teknis mungkin bisa digantikan oleh mesin dan teknologi. Namun empati, kasih sayang, dan kehadiran jiwa seorang perawat tetap menjadi obat yang tak tergantikan oleh algoritma mana pun.

Dengan pengukuhan dua Guru Besar baru ini, UMSURA mempertegas posisinya dalam mencetak pakar yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki keberanian untuk menyuarakan kebenaran demi kemanusiaan. || chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search