Muhammadiyah bukan sekadar organisasi massa, melainkan sebuah laboratorium besar pendidikan karakter yang tidak pernah berhenti beroperasi. Setiap gerak langkahnya, termasuk tradisi silaturahmi, merupakan perwujudan dari kurikulum kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai religius.
Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. Sholihin Fanani, dalam gelaran Halalbihalal Majelis Tabligh PWM Jatim yang berlangsung di Perumahan Istana Chofa, Darmo Satelit, Surabaya, Ahad (19/4/2026). Di hadapan para aktivis dakwah, beliau membedah esensi gerakan Muhammadiyah yang selalu bermuara pada satu titik sentral, yakni Pendidikan.
Bagi warga persyarikatan, halalbihalal bukan sekadar ajang makan bersama atau bertukar maaf secara formalitas. Dr. Sholihin menekankan bahwa kegiatan seperti ini adalah manifestasi nyata dari cara bermuhammadiyah yang benar.
“Kegiatan Muhammadiyah itu muaranya adalah pendidikan. Halalbihalal seperti ini adalah bentuk konkret dari mengamalkan cara bermuhammadiyah yang sesungguhnya,” tegas Dr. Sholihin Fanani.
Beliau memaparkan bahwa dalam menjalankan roda organisasi dan kehidupan sosial, terdapat empat pilar fundamental yang menjadi ruh bagi setiap kader, yakni:
- Tauhid sebagai Fondasi Niat
Segala sesuatu harus dimulai dengan tauhid yang murni. Di dalamnya terkandung niat yang tulus dan adab yang luhur. Beliau mengingatkan bahwa dalam ekosistem Muhammadiyah, yang muda wajib menghormati yang tua, dan yang tua harus menyayangi yang muda. Ketulusan adalah filter alami dalam organisasi ini.
“Jika ada niat yang tidak tulus dalam berjuang di Muhammadiyah, pasti akan ketahuan. Alam dan sejarah akan menyeleksi siapa yang benar-benar ikhlas,” tambahnya dengan nada tegas.
- Landasan Al-Qur’an dan Sunnah
Setiap langkah organisasi harus memiliki pijakan teologis yang kuat. Dr. Sholihin memberikan ilustrasi menarik yang segar namun penuh makna mendalam. Ia menyebutkan bahwa untuk sukses bermuhammadiyah, sebenarnya cukup “mengundang” empat sosok filosofis, yakni Pak Rahmad, Pak Hidayat, Pak Ridho, dan Pak Slamet.
- Rahmad: Kasih sayang Allah yang melandasi pergerakan.
- Hidayat: Petunjuk Allah agar organisasi tidak salah arah.
- Ridho: Keikhlasan menerima ketetapan Allah atas setiap ikhtiar.
- Slamet: Keselamatan yang menjadi hasil akhir dari perjuangan.
“Dengan rahmad, hidayah, ridho, dan selamat, maka Muhammadiyah akan mengantarkan manusia ke gerbang kebahagiaan dunia dan akhirat,” urainya disambut anggukan takzim para hadirin.
- Keikhlasan sebagai Bahan Bakar Perjuangan
Keikhlasan bukanlah sebuah kelemahan, melainkan kekuatan terbesar Muhammadiyah. Tanpa gaji yang besar, bahkan seringkali merogoh kocek pribadi, para kader tetap bergerak membangun sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan. Inilah “energi ” yang tidak dipahami oleh logika materialisme, namun mampu menggerakkan peradaban.
- Mengutamakan Kepentingan Umum
Filosofi menolong orang lain adalah inti dari gerakan ini. Muhammadiyah mengajarkan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Prinsipnya sederhana namun tajam: menolong orang lain pada dasarnya adalah upaya menolong diri sendiri di hadapan Allah Swt.
Falsafah Jawa dan Visi Peradaban
Dr. Sholihin mengingatkan agar warga persyarikatan tidak mencabut akar budayanya. Beliau menekankan pentingnya menjaga falsafah Jawa dalam berinteraksi, baik sesama warga Muhammadiyah maupun dengan masyarakat luas.
Prinsip Guyub, Rukun, Ayem, dan Tentrem harus menjadi napas dalam pergaulan. Menurutnya, modernitas Muhammadiyah harus dibalut dengan kesantunan budi pekerti lokal yang luhur. Keharmonisan sosial adalah prasyarat mutlak sebelum mencapai tujuan besar berbangsa.
Menutup sambutanya, Dr. Sholihin menegaskan bahwa jika keempat pilar dan falsafah kebersamaan tersebut dijalankan dengan konsisten, maka cita-cita besar persyarikatan akan tercapai. Muhammadiyah bukan sekadar ingin menang dalam kontestasi jumlah massa, melainkan ingin mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Visi akhirnya adalah terwujudnya Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghafur, sebuah negeri yang baik, indah, dan makmur di bawah naungan dan ampunan serta lindungan Allah Swt. || chusnun
