Dr. Sholihin Fanani: Lima Karakter Mubaligh Muhammadiyah

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. H. M. Sholihin Fanani, M.PSDM, saat menjadi pemateri. (ist)
www.majelistabligh.id -

Karakter dan integritas personal menjadi penentu utama kesuksesan seorang mubaligh dalam mengemban misi dakwah. Bukan sekadar cakap dalam beretorika, seorang mubaligh dituntut mampu mencerahkan, menggerakkan, memberdayakan, sekaligus menggembirakan umat melalui teladan yang nyata.

Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. H. M. Sholihin Fanani, M.PSDM, saat menjadi pemateri dalam Diklat Mubaligh Muda Muhammadiyah ke-2. Acara yang diinisiasi oleh Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gresik ini berlangsung pada Sabtu-Ahad (11-12/07/2026) di Perguruan Muhammadiyah Mojopetung, Kecamatan Dukun, Gresik.

“Mubaligh Muhammadiyah bukan hanya pembicara di atas podium, melainkan agen perubahan. Kesuksesan dakwah kita di era modern ini tidak lagi diukur dari seberapa lantang suara kita, melainkan dari seberapa besar karakter kita mampu menggerakkan dan menggembirakan hati umat,” kata Dr. Sholihin Fanani di hadapan para peserta.

Kegiatan ini diikuti oleh 34 peserta terpilih dari Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Kabupaten Gresik.

Dalam paparannya, Sholihin menekankan bahwa fondasi utama karakter mubaligh Muhammadiyah wajib mencontoh sifat mulia Rasulullah saw, yaitu shiddiq (jujur), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathanah (cerdas).

Selain itu, dakwah yang disampaikan harus senantiasa bersumber pada nilai-nilai Islam Berkemajuan, yang meliputi:

  • Tauhid yang murni.
  • Berpedoman teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  • Menghidupkan etos ijtihad.
  • Mengedepankan sikap wasathiyah (moderat).
  • Mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam).

Lima Pilar Karakter Mubaligh Muhammadiyah

Lebih lanjut, Dr. Sholihin merinci lima pilar karakter yang harus melekat dalam diri setiap mubaligh Muhammadiyah demi menghadapi tantangan zaman:

  1. Ulama (Otoritas Keilmuan): Menguasai ilmu agama secara mendalam dan menjadi uswatun hasanah (contoh baik) dalam mengamalkannya di kehidupan sehari-hari.
  2. Zuamma (Jiwa Kepemimpinan): Memiliki karakter pemimpin yang terorganisasi, visioner, dan mampu menjadi penggerak berbagai roda kebaikan di masyarakat.
  3. Aulia (Kedekatan Spiritual): Menjaga kedekatan spiritual yang intim dengan Allah Swt, yang kemudian bertransformasi menjadi kesalehan sosial dalam bentuk gemar menolong sesama.
  4. Anbiya (Konsistensi Dakwah): Mewarisi daya juang para nabi untuk terus menyuarakan amar ma’ruf nahi munkar, serta konsisten mengingatkan masyarakat agar taat kepada Sang Pencipta.
  5. Aghniya (Kedermawanan Sosial): Memiliki mentalitas tangan di atas—suka memberi, peduli, berempati tinggi, dan hadir sebagai solusi atas problem ekonomi maupun sosial umat.

Pentingnya regenerasi mubaligh muda yang berkarakter kuat ini sejalan dengan potret demografi Indonesia saat ini. Berdasarkan proyeksi data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia tengah berada di puncak Bonus Demografi, di mana kelompok usia produktif (15-64 tahun) mendominasi hingga lebih dari 68% dari total populasi.

Kehadiran mubaligh muda yang adaptif dan berkarakter dinilai menjadi kunci vital agar dakwah Islam tetap relevan bagi generasi milenial dan Gen Z yang melek digital. Melalui pelatihan ini, diharapkan lahir korps mubaligh muda yang siap terjun ke masyarakat dengan membawa kesejukan dan solusi nyata bagi umat. || sholihin fanani

 

Tinggalkan Balasan

Search