Empat Pilar Menjaga Kualitas Ibadah

Dr. Sholihin Fanani, M.PSDM.
*) Oleh : Dr. M. Sholihin Fanani, M.PSDM.
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur.
www.majelistabligh.id -

Selain menjaga kemurnian akidah, tugas utama seorang muslim adalah merawat dan menjaga kualitas ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah yang berkualitas bukan sekadar rutinitas fisik, melainkan cerminan dari kedekatan seorang hamba pada Sang Pencipta.

Dalam kajian rutin subuh di Masjid Al-Ikrom pagi tadi, saya menyampaikan bahwa ada empat cara penting untuk menjaga kualitas ibadah kita agar tetap bernilai di sisi Allah Swt. Berikut penjelasannya:

  1. Menjaga Kesucian Niat

Pilar pertama dan paling utama adalah menjaga niat. Niat merupakan amalan hati melakukan suatu perbuatan demi mengharap rida dan pahala dari Allah Swt. Tanpa niat yang tulus, ibadah akan kehilangan ruhnya.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”

Hal ini dipertegas oleh sabda Rasulullah saw.:

“Segala amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

  1. Beribadah Berlandaskan Ilmu

Kedua, menguasai ilmu. Dalam menjalankan ibadah, seorang muslim tidak boleh sekadar ikut-ikutan (taklid buta). Kita harus memahami dasar dan tata caranya agar ibadah tersebut sah dan diterima. Oleh karena itu, seluruh praktik ibadah kita wajib merujuk pada tuntunan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Sebagaimana sabda beliau terkait ibadah salat:

“Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.” (HR. Bukhari)

  1. Senantiasa Bertaubat kepada Allah Swt.

Ketiga, memperbanyak taubat. Sebagai manusia, kita tidak luput dari noda dan kesalahan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu memohon ampunan (istigfar) atas segala dosa, baik yang disengaja maupun tidak.

Di sinilah letak urgensi mengapa setiap selesai beribadah—seperti setelah salat—kita dianjurkan langsung beristigfar. Kita menyadari bahwa manusia adalah tempatnya salah, dan ibadah kita pun mungkin masih jauh dari sempurna.

Rasulullah saw. mengingatkan:

“Bahwa manusia itu tempatnya salah dan lupa”

  1. Bertekad Berhenti dari Kemaksiatan

Keempat, menjauhi maksiat dan dosa. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hakikat ibadah adalah untuk membersihkan dan mensucikan jiwa manusia. Kesucian jiwa ini tidak akan pernah tercapai jika kita masih terus memelihara kebiasaan maksiat. Ibadah yang baik seharusnya menjadi benteng yang membentengi diri kita dari perbuatan buruk.

Sebagaimana firman Allah Swt. mengenai ibadah salat:

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Jadi, menjaga kualitas ibadah adalah perjuangan seumur hidup. Dengan menata kembali niat, memperdalam ilmu, melazimkan taubat, serta menjauhi maksiat, insyaallah ibadah yang kita lakukan tidak hanya menjadi penggugur kewajiban, melainkan sarana transformasi diri menuju hamba yang bertakwa. Semoga kita semua istikamah dalam mengamalkannya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search