Forum Group Discussion (FGD) Akademi Mubaligh Muhammadiyah (AMM) Tapal Kuda yang digelar Jumat (20/6/2026) di Probolinggo, menyoroti pentingnya peran mubaligh Muhammadiyah yang moderat di tengah menguatnya paham liberal dan radikal di masyarakat.
Acara yang dihadiri 70 peserta dari 7 kabupaten/kota: Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi, ini mengangkat tema “Mubaligh Moderat Muhammadiyah”. Para peserta mendiskusikan cara menyikapi beragam aliran keagamaan yang berkembang di sekitar basis Muhammadiyah.
Dalam diskusi, terungkap sejumlah kasus lapangan. Di Lumajang, beberapa pemuda mulai mempertanyakan kewajiban shalat dan puasa setelah mengikuti kajian yang menafsirkan ayat secara bebas tanpa kaidah.
“Ini contoh paham liberal yang terlalu membebaskan hingga menabrak pokok agama,” ujar salah satu peserta.
Sebaliknya, di Bondowoso ditemukan kelompok yang menolak tradisi tahlilan dengan cara keras dan mengkafirkan pelakunya di media sosial.
“Ini model pemahaman radikal-ekstrem yang tekstual dan kaku, sehingga mudah menyulut konflik,” tambah peserta lain.
Pemateri FGD, Dr. Slamet Muliono Redjosari, yang juga Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Jawa Timur, merekam pandangan peserta bahwa aliran liberal hingga radikal kini cukup berkembang di lingkungan sekitar Muhammadiyah.
“Aliran liberal cenderung liar dalam berkeyakinan, merasa bebas menafsirkan ayat sesuai penafsiran secara bebas dan berbasis pengetahuannya sendiri. Sementara yang radikal-ekstrem sangat literal, hitam-putih, dan mudah menyalahkan orang lain,” tegas Slamet.
Menurutnya, mubaligh Muhammadiyah harus mengambil jalan tengah: teguh pada prinsip tarjih dan manhaj Muhammadiyah, tapi tetap luwes dan hikmah dalam berdakwah. “Mubaligh moderat tidak liberal dan tidak radikal. Dia berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang wasathiyah, tidak memvonis, tapi merangkul,” jelasnya.
FGD ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas mubaligh AMM Tapal Kuda agar mampu menjawab tantangan keberagamaan di akar rumput dengan pendekatan yang mencerahkan, bukan memecah belah. (*/tim)
