Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa (FORTASI) di SMA Muhammadiyah 4 Lamongan (SMA Fourmula) tidak hanya menjadi ajang pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi ruang pembinaan ideologi kemuhammadiyahan bagi murid baru. Pada Kamis (16/7/2026), peserta FORTASI mengikuti materi Peta Sosiologis Organisasi: Tipe Kader Muhammadiyah yang disampaikan oleh Fathan Faris Saputro, M.Pd., Koordinator Divisi Pustaka dan Informasi Majelis Pustaka dan Informasi Digitalisasi (MPID) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan sekaligus penulis buku Luwesitas IMM.
Dalam pemaparannya, Faris menegaskan bahwa kaderisasi merupakan jantung keberlangsungan Muhammadiyah. Menurutnya, kekuatan persyarikatan tidak ditentukan oleh banyaknya anggota, melainkan oleh kualitas kader yang memahami ideologi, memiliki integritas, serta siap melanjutkan estafet kepemimpinan.
“Muhammadiyah akan terus hidup jika memiliki kader yang memahami ideologi, memiliki kapasitas, dan siap melanjutkan estafet kepemimpinan. Karena itu, kaderisasi bukan sekadar formalitas, melainkan proses menyiapkan masa depan persyarikatan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kaderisasi ideal berlangsung melalui tiga tahapan utama, yakni pewarisan nilai, pengembangan kapasitas, dan suksesi kepemimpinan. Ketiga tahapan tersebut saling melengkapi dalam membentuk kader yang tidak hanya memahami nilai-nilai Islam Berkemajuan, tetapi juga mampu menggerakkan organisasi serta memberi manfaat bagi masyarakat.
Kenali Enam Tipe Kader Muhammadiyah
Pada kesempatan tersebut, Faris memperkenalkan enam realitas sosiologis kader Muhammadiyah, yakni kader biologis, kader ideologis, kader honoris, kader simpatisan, kader parasit, dan kader struktural. Menurutnya, pemetaan tersebut membantu peserta memahami berbagai karakter kader yang berkembang di lingkungan persyarikatan.
Ia menjelaskan bahwa kader biologis merupakan mereka yang lahir dari keluarga Muhammadiyah. Namun, latar belakang keluarga tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai kader yang memiliki pemahaman ideologis.
“Menjadi anak keluarga Muhammadiyah bukan jaminan seseorang menjadi kader ideologis. Semua tetap harus melalui proses belajar, pembinaan, dan pengaderan yang berkelanjutan,” kata Faris.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kader ideologis merupakan tujuan utama seluruh proses kaderisasi. Kader tipe ini memiliki pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai Muhammadiyah, loyal terhadap organisasi, serta aktif mengembangkan dakwah di berbagai bidang kehidupan.
Sementara itu, kader honoris merupakan individu yang memperoleh penghormatan atas kontribusinya terhadap Muhammadiyah meskipun tidak melalui proses kaderisasi formal. Adapun kader simpatisan adalah mereka yang mendukung berbagai kegiatan Muhammadiyah, tetapi belum terlibat secara penuh dalam struktur maupun proses pengaderan.
Faris juga mengingatkan peserta mengenai keberadaan kader parasit, yakni individu yang memanfaatkan organisasi untuk kepentingan pribadi tanpa memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan persyarikatan.
“Muhammadiyah membutuhkan kader yang hadir untuk memberi, bukan sekadar mengambil manfaat dari organisasi. Semangat berkhidmat harus menjadi identitas setiap kader,” tuturnya.
Kader Harus Hadir untuk Berkhidmat
Selain itu, ia menjelaskan bahwa kader struktural merupakan kader yang memperoleh amanah dalam kepengurusan organisasi. Meski demikian, jabatan bukanlah tolok ukur utama kualitas seorang kader.
“Jangan sampai kita terjebak pada ilusi struktural. Memiliki jabatan belum tentu menunjukkan kualitas ideologis. Yang paling penting adalah integritas, keteladanan, dan kontribusi nyata,” tegas Faris.
Untuk memudahkan pemahaman peserta, Faris memaparkan matriks pemetaan kader yang menggambarkan karakteristik, tingkat keterlibatan, kontribusi, hingga fokus pengembangan setiap tipe kader. Melalui pemetaan tersebut, para murid diajak mengenali posisi mereka saat ini sekaligus menentukan arah pengembangan diri agar terus bertumbuh menjadi kader Muhammadiyah yang berkemajuan.
Menutup materinya, Faris mengajak seluruh peserta menjadikan FORTASI sebagai langkah awal untuk memperkuat komitmen dalam ber-Muhammadiyah.
“Mulailah bertanya kepada diri sendiri, saat ini saya berada di posisi yang mana. Setelah itu, teruslah belajar agar kelak menjadi kader ideologis yang membawa manfaat bagi umat, bangsa, dan Muhammadiyah,” pungkasnya. (Bilal)
