Konon, berpikir adalah pekerjaan yang melelahkan. Karena itu, manusia menemukan jalan pintas: mencurigai.
Mencurigai tidak memerlukan data, tidak menuntut pembacaan laporan, dan tidak mengharuskan verifikasi sumber. Cukup satu video berdurasi tiga puluh detik, satu narasi dengan musik yang mencekam, lalu lahirlah keyakinan baru: dunia ternyata dikendalikan oleh segelintir pihak yang tak pernah tidur.
Begitulah. Di zaman ini, dalang lebih terkenal daripada kenyataan.
Kita hidup dalam sebuah republik yang ganjil. Di negeri ini, seorang profesor harus menyertakan puluhan referensi untuk meyakinkan publik. Sebaliknya, seorang anonim dengan akun bergambar tokoh kartun cukup menulis, “Coba pikir…”—lalu ribuan orang mengangguk khidmat.
Akal sehat tampaknya kalah murah.
Teori konspirasi memang menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki ilmu pengetahuan: kepastian instan.
Ilmu berkata, “Berdasarkan bukti yang tersedia…”
Teori konspirasi berkata, “Saya tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Kalimat kedua selalu terdengar lebih meyakinkan, terutama bagi mereka yang menganggap keraguan sebagai kelemahan.
Padahal, keraguan adalah inti dari ilmu pengetahuan.
Yang menarik, teori konspirasi kerap diperlakukan seolah selalu benar, apa pun hasilnya.
Jika tuduhannya terbukti salah, itu karena “buktinya telah dihilangkan”.
Jika kebetulan sesuai, mereka berkata, “Sudah saya katakan.”
Dalam logika semacam ini, kekalahan hanyalah kemenangan yang belum diakui.
Ini bukan cara berpikir. Ini cara beriman.
Ironisnya, mereka yang paling keras menyerukan “jangan mudah percaya” justru paling mudah percaya—asal ceritanya cukup mengejutkan.
Mereka menolak jurnal ilmiah karena dianggap pesanan elite, tetapi menerima mentah-mentah narasi dari seseorang yang bahkan tidak menggunakan identitas aslinya.
Kita menyaksikan sebuah zaman ketika verifikasi dianggap membosankan, sementara sensasi diperlakukan seolah-olah kebenaran.
Algoritma tentu bersorak. Sebab kemarahan lebih menguntungkan daripada ketenangan.
Kecurigaan lebih menghasilkan klik daripada penjelasan. Kebohongan tidak perlu menjadi benar; ia hanya perlu cukup menarik untuk dibagikan sebelum sarapan.
Barangkali inilah bentuk demokrasi yang paling ganjil: setiap orang berhak atas pendapatnya, lalu sebagian orang mengira dirinya juga berhak atas faktanya sendiri.
Maka lahirlah dunia yang asing.
Dokter kalah oleh influencer. Peneliti kalah oleh podcaster. Arsip kalah oleh potongan video. Perpustakaan kalah oleh kolom komentar.
Yang runtuh bukan ilmu pengetahuan. Yang runtuh adalah kesediaan untuk belajar.
Sejarah memang mengenal konspirasi. Ada pengkhianatan. Ada operasi rahasia.
Ada kekuasaan yang menyembunyikan dosa-dosanya.
Namun sejarah juga mengenal sesuatu yang jauh lebih sering terjadi: kebodohan, salah perhitungan, keserakahan, dan kekacauan.
Dunia tidak selalu digerakkan oleh jenius-jenius jahat. Sering kali ia hanya digerakkan oleh orang-orang biasa yang kebetulan memegang kekuasaan.
Namun penjelasan seperti itu terlalu sederhana. Terlalu membosankan. Tidak cukup dramatis untuk menjadi viral.
Kita tampaknya lebih menyukai dongeng daripada kenyataan.
Hanya saja, kali ini dongeng itu tidak diawali dengan kalimat, “Pada suatu hari…”, melainkan, “Fakta yang tidak akan pernah diberitahukan kepada Anda.”
Dan kita pun percaya. Barangkali bukan karena mereka pandai berbohong. Melainkan karena kita mulai malas berpikir.
Ciloto, 4 Agustus 2026
#BuyaDarwis
