Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan, kesabaran masih kerap disalahartikan sebagai bentuk kelemahan atau sikap pasrah terhadap keadaan. Padahal, hakikat sabar justru merupakan kekuatan batin yang mendorong seseorang untuk tetap berjuang, berpikir jernih, dan tidak berhenti melangkah dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Hal itu disampaikan Anggota Bidang Pustaka, Informasi, dan Teknologi Pimpinan Ranting Nasyiatul ‘Aisyiyah (PRNA) Panyuran, Lisana Sidqi Aliyyan, yang akrab disapa Liyyan, saat diwawancarai pada Rabu (5/8/2026).
Menurut Liyyan, sabar bukanlah sikap diam tanpa tindakan. Sebaliknya, sabar merupakan proses aktif yang membutuhkan keteguhan hati, kesungguhan dalam berikhtiar, dan keyakinan untuk terus melangkah selama berada di jalan yang benar.
“Sabar bukan berarti menyerah. Sabar adalah proses aktif yang penuh tenaga, bukan tanda pasrah atau kalah. Sikap ini menuntun kita untuk tetap berusaha, berpikir jernih, dan tidak berhenti melangkah meski persoalan hidup terasa berat atau membutuhkan waktu lama untuk diselesaikan. Selama apa yang kita lakukan berada di jalan yang benar, jangan pernah menyerah,” ujarnya.
Liyyan menilai anggapan bahwa sabar identik dengan kelemahan muncul karena masih banyak orang memandang kesabaran sebagai sikap pasif. Padahal, sabar merupakan bentuk ketahanan mental yang menuntut kemampuan mengendalikan diri sekaligus menyusun langkah terbaik dalam menghadapi persoalan.
Menurut dia, budaya yang serba instan turut memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap makna kesabaran. Banyak orang menginginkan hasil yang cepat sehingga cenderung bereaksi secara spontan. Akibatnya, sikap menahan diri sering dipersepsikan sebagai ketidakberdayaan.
“Padahal, sabar berarti tetap berikhtiar, berpikir tenang, dan terus mencari jalan keluar tanpa kehilangan harapan,” katanya.
Ia menambahkan, sikap sabar dapat ditumbuhkan dengan menyadari bahwa setiap proses membutuhkan waktu. Kesabaran harus berjalan beriringan dengan evaluasi diri, ketekunan, dan semangat untuk terus memperbaiki ikhtiar.
“Sabar bukan berarti berhenti bergerak. Sabar adalah kemampuan menjaga ketenangan batin sambil terus bekerja keras, belajar, dan memperbaiki diri tanpa henti,” tuturnya.
Kepada generasi muda, Liyyan berpesan agar tidak memandang kegagalan sebagai akhir dari perjalanan. Menurut dia, kesabaran merupakan modal penting untuk bangkit, belajar dari setiap pengalaman, dan terus mengejar cita-cita meski menghadapi berbagai rintangan.
“Generasi muda harus memahami bahwa sabar bukan tanda menyerah atau lemah. Sabar adalah tenaga batin yang membuat kita terus belajar, bangkit setelah jatuh, dan tetap fokus menjalani proses demi meraih mimpi besar di tengah dunia yang bergerak begitu cepat,” pungkasnya.
Liyyan berharap pemahaman yang benar tentang makna sabar dapat mendorong masyarakat, terutama generasi muda, untuk tidak mudah putus asa ketika menghadapi kegagalan. Sebab, kesabaran bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan bekal untuk tetap melangkah dengan ikhtiar, keteguhan, dan optimisme hingga tujuan dapat diraih. (fathan faris saputro)
