Menjadi guru mengaji bukan sekadar profesi sampingan, melainkan garda terdepan dalam menjaga
estafet kepemimpinan umat. Semangat inilah yang mengemuka dalam acara “Upgrading dan Penyerahan Kado untuk Guru Ngaji TPQ Muhammadiyah Jawa Timur” yang digelar oleh Divisi Pengelolaan dan Pembinaan TPQ Muhammadiyah, Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur bersinergi dengan LAZISMU Kantor Perwakilan (KP) Jawa Timur, Sabtu (25/4/2026).
Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh 100 peserta, yang terdiri dari 49 utusan asal Surabaya dan 51 utusan dari Sidoarjo. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan langkah strategis untuk melakukan standarisasi dan peningkatan kualitas pengajaran Al-Qur’an di tingkat wilayah, daerah, hingga lembaga TPQ.
Sekretaris Majelis Tabligh PWM Jatim, Munahar, menegaskan bahwa peran TPQ saat ini telah bertransformasi secara signifikan. TPQ bukan lagi sekadar tempat “ngaji sore”, melainkan institusi pendidikan alternatif yang hampir setara dengan sekolah formal dalam membentuk karakter anak.
“TPQ adalah pengaderan yang sesungguhnya. Kita tidak ingin anak-anak hanya sekadar bisa mengeja huruf Al-Qur’an, tetapi mereka harus tumbuh menjadi generasi Muhammadiyah yang siap melakukan regenerasi kepemimpinan,” tegas Munahar.
Lebih lanjut, ia menekankan perlunya pengayaan kurikulum. Ke depan, TPQ diharapkan mampu menyisipkan muatan pelajaran lain yang relevan, sehingga santri memiliki wawasan luas di samping pemahaman agama yang kuat.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Lazismu Kantor Perwakilan Jatim, Imam Hambali, memberikan suntikan spiritual yang menggetarkan hati para peserta. Mengambil ibrah dari kisah Nabi Musa as, ia mengingatkan bahwa setiap garis hidup manusia adalah bagian dari skenario besar Sang Khalik.
Imam Hambali menyoroti fenomena sosial di mana profesi guru mengaji seringkali dipandang sebelah mata secara materi. Namun, ia dengan tegas menyatakan bahwa di mata Allah, profesi ini menempati derajat yang sangat tinggi.
“Jika Allah menakdirkan Anda menjadi guru Al-Qur’an, maka pilihannya hanya satu, syukuri dan rida. Tanpa keridaan atas takdir, manusia akan terjebak dalam depresi karena ekspektasi duniawi yang tidak selaras dengan kenyataan,” ujarnya.
Ia juga memberikan kritik tajam bahwa saat ini Al-Qur’an lebih banyak ditilawahkan, namun belum sepenuhnya dijadikan instrumen untuk mengasah intelektualitas dan logika berpikir umat.
Kolaborasi Strategis Majelis Tabligh dan Lazismu
Dukungan penuh juga datang dari struktur pimpinan wilayah. Wakil Ketua PWM Jatim, Dr. KH. Syamsudin, M.Ag, menyatakan bahwa sinergi antara Majelis Tabligh dan Lazismu dalam membina guru TPQ sudah berada pada jalur yang benar (on the track).
“Majelis Tabligh memiliki tugas organisasi untuk meningkatkan kualitas guru, dan Lazismu mendukung sarana penguatannya. Ini adalah amalan yang sangat indah,” ungkap Kyai Syamsudin.
Dengan adanya upgrading ini, diharapkan guru TPQ di Surabaya dan Sidoarjo tidak hanya terampil secara pedagogis, tetapi juga memiliki mentalitas pejuang. Mereka adalah ujung tombak yang memastikan bahwa cahaya Al-Qur’an terus menyala di dada generasi muda Muhammadiyah, demi masa depan bangsa yang lebih beradab.
Acara ini juga dilakukan pemberian kado secara simbolis pada guru TPQ, yang dilakukan oleh unsur majelis tabligh, Lazizmu dan PWM Jatim. || chusnun
