Haedar Nashir: Guru adalah Buku Hidup

Haedar Nashir: Guru adalah Buku Hidup
www.majelistabligh.id -

Guru bukan sekadar pengajar yang bertugas mentransfer ilmu pengetahuan di dalam kelas. Lebih dari itu, guru adalah pendidik karakter sekaligus “buku hidup” yang menjadi teladan nyata dalam menentukan arah masa depan bangsa.

Pesan substansial tersebut ditegaskan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam Silaturahmi Forum Guru Muhammadiyah di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (7/11/2026).

Acara ini digelar dalam rangka memperingati Milad ke-114 Muhammadiyah sekaligus menyambut Hari Guru Nasional 2026.

Di hadapan ribuan pendidik, Haedar mengingatkan kembali filosofi klasik digugu lan ditiru. Menurutnya, profesi guru dilandasi oleh panggilan jiwa untuk membentuk fondasi moral generasi penerus.

“Menjadi guru berarti mentransfer ilmu dan pengalaman, sekaligus menjadi pendidik yang membentuk karakter dan menampilkan uswah (keteladanan) bagi para murid,” ujar Haedar.

Menghadapi persaingan dunia pendidikan yang kian ketat, Haedar merumuskan tiga pesan kunci yang harus dipegang teguh oleh para pendidik:

  1. Menjaga Komitmen dan Integritas

Tanggung jawab guru tidak berhenti saat jam pelajaran usai. Guru adalah sosok pembimbing kehidupan yang konsistensinya diuji lewat perilaku sehari-hari, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah.

  1. Memperkuat Keahlian dan Kompetensi

Kualitas lembaga pendidikan sangat bergantung pada kapasitas sumber daya manusianya. Guru merupakan aktor utama yang menentukan mutunya proses pembelajaran. “Jika kualitas guru meningkat, dengan sendirinya mutu institusi pendidikan ikut naik. Di tengah kompetisi yang sengit, penentunya ada pada kualitas guru sebagai pendidik,” jelasnya.

  1. Merawat Idealisme dan Semangat Perjuangan

Haedar mengimbau para pendidik untuk tidak membandingkan profesinya dengan bidang kerja lain, terutama bagi mereka yang mengabdi di daerah terpencil dengan akses terbatas. Predikat pahlawan tanpa tanda jasa harus dijiwai melalui ketulusan dan pengabdian tanpa pamong. “Kita memahami kesulitan yang dihadapi para guru di daerah terpencil. Namun, semangat perjuangan dan idealisme harus tetap menyala,” tegas Haedar.

Sebagai penutup, Haedar berpesan agar seluruh pendidik di lingkungan Persyarikatan tetap berpedoman pada paham keagamaan, ideologi, dan sistem gerakan Muhammadiyah.

“Guru adalah buku-buku yang hidup, buku yang berjalan, dan buku yang menjadi teladan. Tetaplah mengajar dalam koridor pandangan dan ideologi Muhammadiyah agar nilai-nilai perjuangan kita tetap terjaga,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search