Sifat “tengahan” atau moderat yang menjadi ruh gerakan Muhammadiyah harus senantiasa diimplementasikan di lingkungan akademik, termasuk dalam riset dan penelitian oleh civitas akademika Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA).
Pesan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, di hadapan Forum Rektor PTMA yang berlangsung di Tangerang, Senin (18/5/2026).
Mengambil contoh dalam penelitian tentang gender, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki perspektif yang khas (distingtif). Perspektif ini tidak condong ke ekstrem kiri yang serba membolehkan segala hal tanpa batas, tetapi juga tidak kaku pada ekstrem kanan yang justru membekukan dan membatasi peran perempuan.
Guru Besar Ilmu Sosiologi ini menjelaskan bahwa penelitian yang lahir dari lingkungan PTMA harus bersifat multiperspektif. Ia mengingatkan agar peneliti tidak memosisikan manusia sebagai objek pasif layaknya robot yang hanya dilihat dari satu sudut pandang saja.
Dalam konteks kajian gender, Haedar menekankan agar akademisi PTMA tidak terjebak untuk melihat isu ini hanya dari kacamata dominasi dan hegemoni semata.
“Pekerjaan penelitian kita intinya tidak sekadar pada isu dominasi dan hegemoni. Maka, jangan sepenuhnya teori-teori Barat seperti Foucault atau Marxisme itu diambil mentah-mentah. Tugas PTMA adalah mengkaji berbagai hal tersebut secara multiperspektif sesuai bidangnya masing-masing,” ujar Haedar.
Menurutnya, relasi antara laki-laki dan perempuan dalam bingkai Islam tidak sebatas urusan dominasi dan hegemoni, mengingat struktur sosial di dalam kehidupan bermasyarakat sangatlah beragam dan kompleks.
“Jadi, saya minta ada kajian-kajian strategis yang moderat. Pemikiran Barat itu bagus, tetapi tidak semuanya harus kita ambil alih begitu saja,” tambah Haedar.
Meski demikian, Haedar menegaskan bahwa dirinya tidak melarang penggunaan pendekatan atau metodologi yang dikembangkan oleh Barat. Namun, poin utama yang ingin ia tekankan adalah pentingnya menjaga keseimbangan (sikap tengahan) yang diperkuat dengan pendekatan multiperspektif yang relevan dengan nilai-nilai Islam berkemajuan. (*/tim)
