Hari-hari ini aku belajar menerima kenyataan yang tidak pernah terlintas dalam bayanganku.
Aku, yang terbiasa bergerak dari satu tugas ke tugas lainnya. Aku, yang hampir tidak pernah bisa diam. Waktuku selama ini seolah selalu penuh oleh amanah yang datang silih berganti. Menjadi guru bagi murid-muridku, menjadi istri yang menunggu kepulangan suami dari tanah rantau, menjadi ibu bagi anak-anak yang membutuhkan kehadiranku setiap hari.
Belum lagi amanah sebagai aktivis dakwah bagi para muslimah muda, relawan pengajar mengaji, serta pegiat literasi di kampung kecil yang begitu kucintai.
Aku selalu berpikir bahwa selama tubuh ini masih kuat, selama kaki ini masih mampu melangkah, maka aku harus terus berjalan.
Namun Allah memiliki cara-Nya sendiri untuk mengajarkanku.
Waktu itu, hari Tasyrik pertama masih terekam jelas dalam ingatanku, selesai mengemban amanah dakwah, dalam pentasharufan daging kurban di desa tetangga bersama kawan-kawan Angkatan Muda Muhammadiyah dan LazisMU, sebuah kecelakaan motor tunggal datang tanpa aba-aba. Dalam hitungan detik, hidup yang biasanya berlari cepat mendadak terhenti. Kaki kananku patah. Operasi harus dilakukan. Dokter memintaku beristirahat selama dua hingga tiga bulan dan tidak boleh menapak tanah sama sekali.
Awalnya aku menangis.
Bukan karena rasa sakit yang menusuk tulang, tetapi karena perasaan tidak berdaya yang begitu asing bagiku.
Bagaimana dengan murid-muridku?
Bagaimana dengan anak-anakku?
Bagaimana dengan kegiatan dakwah yang selama ini kujalankan?
Bagaimana dengan kelas mengaji, program literasi, dan berbagai amanah yang belum selesai?
Aku merasa seolah kehilangan sebagian diriku.
Namun di atas tempat tidur itu, ketika aku tidak lagi bisa bergerak sesuka hati, Allah mulai memperlihatkan sesuatu yang selama ini luput dari pandanganku.
Allah tidak pernah mengirimkan ujian sendirian.
Bersamaan dengan musibah itu, Allah mengirimkan pertolongan dari arah yang tidak pernah kuduga.
Satu per satu orang datang membawa perhatian. Ada yang mengirimkan doa. Ada yang menawarkan bantuan. Ada yang menggantikan tugasku sementara. Ada yang menguatkan lewat pesan sederhana. Ada yang menyisihkan rezekinya. Ada yang meluangkan waktunya untuk sekadar memastikan aku baik-baik saja.
Di saat aku merasa tidak mampu berjalan, ternyata Allah menggerakkan begitu banyak kaki untuk mendatangiku.
Di saat aku merasa tidak mampu melakukan apa-apa, ternyata Allah menggerakkan begitu banyak tangan untuk membantuku.
Di saat aku merasa sendirian menghadapi rasa sakit ini, ternyata Allah menunjukkan bahwa aku tidak pernah benar-benar sendiri.
Aku mulai memahami bahwa selama ini aku terlalu sibuk menjadi penolong bagi banyak orang hingga lupa bahwa sesungguhnya aku juga membutuhkan pertolongan.
Dan Allah sedang mengajarkanku tentang itu.
Aku belajar bahwa kekuatan bukan hanya tentang kemampuan untuk bekerja tanpa lelah, tetapi juga kemampuan untuk bersabar ketika tidak lagi mampu melakukan apa-apa.
Aku belajar bahwa ikhlas bukan hanya saat menjalankan amanah, tetapi juga saat harus melepaskan sementara amanah itu dari genggaman.
Aku belajar bahwa cinta Allah terkadang hadir dalam bentuk yang tidak kita sukai, tetapi selalu membawa kebaikan yang tidak kita sadari.
Hari ini, ketika kulihat bekas operasi di kakiku, aku tidak lagi hanya melihat luka.
Aku melihat kasih sayang Allah yang sedang bekerja.
Aku melihat bagaimana Allah menghentikanku agar aku bisa beristirahat.
Aku melihat bagaimana Allah mempertemukanku dengan begitu banyak hati baik.
Aku melihat bagaimana Allah mengingatkanku bahwa semua urusan ini bukan bergantung pada diriku, melainkan pada-Nya.
Bukankah selama ini aku sering mengajak orang lain untuk percaya kepada pertolongan Allah?
Kini Allah memintaku untuk merasakan sendiri pelajaran itu.
Dan sungguh, pertolongan Allah itu nyata.
Sangat nyata.
Mungkin kakiku sedang patah.
Mungkin langkahku sedang tertahan.
Mungkin tubuhku belum mampu kembali seperti semula.
Tetapi keyakinanku kepada Allah justru sedang bertumbuh jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
Aku teringat firman-Nya bahwa barang siapa menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya.
Hari ini aku menjadi saksi kecil dari janji itu.
Bukan berarti hidupku bebas dari kesulitan.
Bukan berarti aku tidak menangis.
Bukan berarti aku tidak merasakan sakit.
Namun di setiap kesulitan itu, Allah menghadirkan pertolongan yang membuatku mampu bertahan.
Karena ternyata yang menopang hidup ini bukanlah kekuatan kakiku.
Melainkan kasih sayang Allah yang tidak pernah berhenti mengalir.
Ya Allah, jika musibah ini adalah cara-Mu mendekatkan diriku kepada-Mu, maka jadikanlah aku hamba yang mampu mengambil hikmahnya.
Jika patah ini adalah jalan untuk menguatkan imanku, maka kuatkanlah hatiku hingga akhir.
Dan jika masa istirahat ini adalah cara-Mu menunjukkan betapa luas pertolongan-Mu, maka jangan pernah biarkan aku lupa untuk bersyukur.
Sebab kini aku mengerti.
Tidak semua yang membuat kita berhenti adalah kemunduran.
Kadang, Allah menghentikan langkah kita agar kita bisa melihat betapa banyak tangan-Nya yang sedang menopang kehidupan kita selama ini. (*)
