Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya pengembangan kawasan dakwah Muhammadiyah di lingkungan perguruan tinggi sebagai langkah strategis memperluas syiar Islam yang mencerahkan dan memajukan.
Hal tersebut disampaikan dalam amanatnya Syawalan dan Pengukuhan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Universitas Gadjah Mada yang digelar di Ruang Bulaksumur, University Club Hotel UGM, Selasa (14/4/2026).
Dalam kesempatan yang dihadiri pimpinan dan akademisi UGM itu, Haedar menekankan bahwa kawasan kampus memiliki karakteristik berbeda dibandingkan ranting berbasis teritorial. Karena itu, pendekatan dakwah harus mampu menghadirkan kenyamanan, memperkuat relasi yang kohesif, serta menumbuhkan semangat inklusivitas.
“Kampus adalah ruang yang dinamis. Muhammadiyah harus hadir sebagai rumah besar bagi semua, baik bagi bangsa maupun kemanusiaan semesta,” ujarnya.
Haedar menambahkan, semangat Iqra menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban Islam yang unggul. Dari tradisi membaca dan keilmuan tersebut, Islam mampu melahirkan peradaban besar yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan keimanan, sekaligus memperkuat hubungan dengan Allah (hablun minallah) dan sesama manusia (hablun minannas).
Menurutnya, Muhammadiyah harus terus menghadirkan peradaban alternatif di tengah arus pemikiran global yang kerap melahirkan humanisme sekuler. Meski menghargai setiap perkembangan peradaban, Muhammadiyah tetap memiliki tanggung jawab untuk mencerdaskan umat dan bangsa.
“Dari komunitas, jemaah, kampus, hingga madrasah, kita harus terus berusaha mencerdaskan umat dan bangsa,” tegasnya.
Haedar juga mengingatkan pentingnya pendalaman pemikiran di tengah tantangan era kontemporer. Ia menilai orientasi pada politik praktis dapat membelah cara pandang dan berujung pada pendangkalan sikap.
“Orientasi politik praktis sering membelah kita menjadi kawan dan lawan, sehingga mengaburkan kejernihan berpikir dan berdampak pada tindakan yang kurang bijak,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti peran media sosial yang memiliki dua sisi: sebagai sarana mencerdaskan sekaligus berpotensi menyebarkan informasi menyesatkan. Untuk itu, kader Muhammadiyah diharapkan tetap berkarakter ulil albab, mampu menyaring informasi, dan mengambil yang terbaik demi kemaslahatan.
Haedar pun mengajak seluruh kader, termasuk PRM di perguruan tinggi, untuk terus menguatkan syiar Islam dengan pendekatan hikmah, mau’izhah hasanah, dan dialog yang baik, serta menghadirkan dakwah melalui berbagai bidang kehidupan seperti pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan budaya.
Haedar juga menekankan pentingnya peran global Muhammadiyah, terutama melalui sektor perguruan tinggi. Di tengah konflik global yang belum mereda, ia mendorong akademisi dan kader Muhammadiyah untuk terlibat dalam advokasi strategis di tingkat internasional. Ia mendorong terciptanya tatanan dunia yang lebih damai dan berkeadilan, seraya menegaskan bahwa sekecil apa pun peran yang diambil tetap memiliki arti. (*/tim)
