Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan tahniah (ucapan selamat) atas pengukuhan Wakil Ketua Majelis Pendayagunaan Wakaf (MPW) PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Mahli Zainuddin Tago, M.Si., sebagai Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (1/8/2026).
Dalam sambutannya yang disampaikan secara daring, Haedar mengingatkan agar jabatan akademik tertinggi tersebut tidak menjadi sekadar kebanggaan semu, melainkan amanah moral untuk menjaga integritas dan membawa peradaban bangsa menuju kemajuan.
“Maka bersama para guru besar lain di UMY dan seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA), Profesor Mahli Zainuddin diharapkan menjadi barisan yang kokoh untuk terus menggerakkan dunia pendidikan ke arah yang lebih unggul,” ujar Haedar.
Ia menambahkan, jabatan akademik tertinggi hendaknya melahirkan tanggung jawab nyata di masyarakat. “Kepangkatan tertinggi ini bukan menjadi kebanggaan semu, melainkan kebanggaan sejati yang membawa tanggung jawab dan peran strategis bagi peradaban bangsa yang maju,” tegasnya.
Soroti Fenomena Plagiarisme
Dalam kesempatan tersebut, Haedar memberikan perhatian khusus terhadap masalah krusial yang masih membayangi dunia akademik di Indonesia, yakni maraknya praktik plagiarisme. Menurutnya, persoalan ini berakar dari krisis integritas dan hilangnya nurani di kalangan akademisi.
“Plagiarisme merupakan masalah krusial yang harus segera diselesaikan. Pangkal dari masalah ini adalah hilangnya nurani dan kejujuran dari akademisi yang hanya ‘kenyang secara intelektual’, namun ‘dahaga secara spiritual’,” cetusnya.
Di samping pesan akademis dan kebangsaan, Haedar membagikan kenangan personal yang hangat bersama Mahli Zainuddin. Hubungan erat keduanya telah terjalin sejak masa-masa awal berproses di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), saat bertempat tinggal di Asrama Mas Mansur, Ketanggungan, Yogyakarta.
Haedar mengenang Mahli muda sebagai sosok junior yang gigih, rendah hati, dan tak segan menimba ilmu kepada siapa saja. Di asrama yang dikelola PP IPM tersebut, Mahli juga dikenal memiliki suara merdu saat mengaji dan kerap dipercaya menjadi imam di Masjid Nuhawwin, Ketanggungan, menggantikan seniornya.
“Dulu kami bersama allahuyarham Profesor Yunahar Ilyas sering menjadi tempat bertanya dan mengadu bagi Saudara Mahli sebagai junior. Perjuangan beliau sangat gigih dan mau belajar kepada siapa pun. Saya tidak pernah membayangkan Saudara Mahli yang dulu junior kami, hari ini meraih kepangkatan akademik tertinggi,” ungkap Haedar haru.
Menjaga Akar Tradisi Kerinci untuk Dunia
Senada dengan Haedar, dalam orasi ilmiah pengukuhannya, Prof. Mahli Zainuddin turut mengenang masa-masa berkesan di Asrama Mas Mansur. Ia mengungkapkan rasa syukur atas bimbingan para senior IPM pada masa itu, seperti Haedar Nashir dan Siti Noordjannah Djohantini.
“Terima kasih kepada IPM yang telah mengajarkan dasar-dasar berorganisasi, serta para senior yang menjadi mentor dan teladan bagi saya. Dari ruang asrama hingga tantangan zaman, proses itulah yang membentuk saya hingga berada di titik ini,” tutur Mahli.
Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk “Etnisitas dan Integrasi Sosial Orang Kerinci di Malaysia”, anak kampung asal Kerinci, Jambi, ini membedah dinamika kebudayaan dan adaptasi perantau Kerinci. Falsafah hidup tanah kelahirannya itu diakui menjadi bekal berharga dalam menaklukkan berbagai tantangan hidup. (*/tim)
